Saturday, January 24, 2026
HomeBeritaPenyebab Tingginya Kecelakaan Kerja di Morowali: Peran Kelelahan

Penyebab Tingginya Kecelakaan Kerja di Morowali: Peran Kelelahan

- Advertisement -
- Advertisement -

Federasi Pertambangan dan Energi Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (FPE KSBSI) baru-baru ini mengungkapkan temuan survei terkait keselamatan kerja di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Hasil survei tersebut menyebutkan empat faktor utama yang menjadi penyebab tingginya angka kecelakaan kerja di IMIP, yaitu kelalaian pekerja, kondisi lingkungan, penggunaan alat pelindung diri (APD) yang kurang memadai, dan kerusakan peralatan. Riswan Lubis, Presiden FPE KSBSI, menyatakan bahwa temuan ini menunjukkan ada permasalahan serius terkait implementasi sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di IMIP.

Survei ini merupakan bagian dari upaya FPE KSBSI untuk mengidentifikasi permasalahan utama di IMIP yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Hasil survei tersebut disampaikan dalam Seminar Dialog Sosial Industri Nikel Menuju Zero Accident di Sulawesi Tengah pada 26-27 Februari. IMIP, sebagai produsen nikel terbesar di Konawe Utara, bekerja sama antara perusahaan Bintang Delapan Group dari Indonesia dengan Tsingshan Steel Group dari China. Selain nikel, IMIP juga memproduksi baja tahan karat, baja karbon, dan bahan baku baterai kendaraan listrik.

Terkait dengan kondisi kerja di IMIP, banyak pekerja di sana mengalami kelelahan akibat jam kerja yang panjang, yakni rata-rata 56 jam per minggu atau 225 jam per bulan. Riswan menekankan pentingnya perhatian pemerintah terhadap kondisi ini karena jam kerja yang berlebihan dapat melemahkan fisik dan meningkatkan risiko penyakit bagi pekerja. Direktur Bina Pemeriksaan Norma Ketenagakerjaan Kementerian Tenaga Kerja, Yuli Adiratna, mencatat kasus kecelakaan di IMIP sejak 2016 hingga 2023 yang mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka.

Organisasi lain, seperti Rasamala Hijau dan Sembada Bersama Indonesia, menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi kerja buruh di IMIP. Mereka menilai bahwa kepentingan produksi nikel lebih diutamakan daripada keselamatan buruh. IMIP sendiri menyatakan bahwa setiap pekerja di kawasan tersebut telah menerima induksi K3 dan rutin mengadakan pertemuan keselamatan kerja. Perusahaan juga menekankan pentingnya pengawasan lingkungan kerja dan pemakaian APD yang sesuai.

Meskipun demikian, masih ditemukan tanggapan terkait waktu kerja, latar pendidikan pekerja, dan pelatihan terkait K3 di IMIP. IMIP menyadari bahwa sebagian besar pekerja tidak memiliki latar belakang teknik yang memadai terkait K3, namun mereka terus melakukan berbagai pelatihan internal dan eksternal untuk meningkatkan kesadaran akan keselamatan kerja. Jumlah karyawan di kawasan IMIP sendiri mencapai 84.336 orang per Oktober tahun lalu, dengan persentase laki-laki lebih dominan dari pada perempuan.

Source link

Berita Terkait

Berita Populer