PT Bank Syariah Indonesia (BSI) memiliki peluang untuk naik kelas menjadi bank KBMI IV dengan bertambahnya modal inti perseroan setiap tahun. Direktur Utama BSI, Hery Gunardi, optimis bahwa BSI sudah hampir mencapai modal minimal Rp70 triliun yang dibutuhkan untuk naik ke KBMI IV. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), perseroan setiap tahun akan memutuskan penggunaan laba bersih untuk pembayaran dividen dan penyisihan laba ditahan yang bisa digunakan sebagai tambahan modal. Dengan pertambahan modal inti setiap tahun, Hery yakin bahwa BSI tidak akan membutuhkan waktu lama untuk naik ke KBMI IV.
Selain itu, Hery juga menyatakan bahwa keputusan penggunaan laba bersih tahun buku 2024 akan diambil dalam RUPST mendatang, belum ada arahan lebih lanjut dari pemegang saham. Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, berharap ada enam bank lain yang bisa bergeser dari KBMI III menjadi KBMI IV dalam jangka waktu dua hingga tiga tahun ke depan. Hal ini penting mengingat pertumbuhan perekonomian Indonesia yang tinggi dan peran sektor keuangan serta perbankan dalam penyaluran pembiayaan yang semakin meningkat.
BSI sendiri mencatat laba bersih senilai Rp7,01 triliun pada tahun 2024, tumbuh 22,83 persen secara tahunan. Modal inti (tier 1) BSI per Desember 2024 mencapai Rp41,7 triliun, meningkat dari periode sebelumnya. Saat ini baru ada empat bank yang memiliki modal inti di atas Rp70 triliun atau masuk dalam KBMI IV, antara lain Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Central Asia, dan Bank Negara Indonesia. Kesemuanya menunjukkan bahwa BSI terus menguat dan mendekati target kenaikan kelas ke KBMI IV.


