Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kemungkinan akan mengalami penurunan pada perdagangan berikutnya, mengikuti situasi sentimen lokal dan global. IHSG dibuka dengan penurunan 81,10 poin atau 1,22 persen ke level 6.566,32, sementara Indeks LQ45 turun 4,14 poin atau 0,56 persen ke posisi 734,11. Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas memperkirakan IHSG masih memiliki potensi untuk melemah dalam perdagangan selanjutnya.
Dari sisi domestik, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan dalam konferensi pers APBN Februari 2025 bahwa defisit anggaran telah mencapai Rp 31,2 triliun hingga akhir Februari 2025. Hal ini menunjukkan adanya perubahan dari surplus sebelumnya dalam tiga tahun terakhir, yang menandakan ketergantungan Indonesia pada harga komoditas.
Sambil itu, aksi perang dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa turut mempengaruhi pasar global. Uni Eropa memberlakukan pajak 50 persen terhadap ekspor wiski AS sebagai balasan atas tarif yang diberlakukan AS pada baja dan aluminium. Perang retorika antara Presiden AS Donald Trump dan Uni Eropa semakin mengguncang pasar saham global, terutama di Eropa, yang mengalami penurunan pada Kamis.
Di Amerika Serikat sendiri, bursa saham Wall Street mengalami penurunan tajam, dengan indeks S&P 500 memasuki fase koreksi. Ketegangan yang muncul akibat kebijakan tarif AS terhadap mitra dagangnya menimbulkan kekhawatiran akan inflasi dan memicu spekulasi resesi ekonomi. Demikian pula, bursa saham regional Asia juga mengalami fluktuasi, dengan Nikkei dan Shanghai menguat sedangkan Kuala Lumpur dan Straits Times melemah.
Sejumlah faktor baik dari dalam maupun luar negeri turut berperan dalam pergerakan IHSG dan pasar saham global, menciptakan ketidakpastian dalam perdagangan di masa mendatang. Kesimpulannya, investor diharapkan untuk memperhatikan perkembangan situasi ekonomi dan politik secara cermat untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.


