Pada awal Maret, Kota Parapat di Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara, dilanda banjir bandang akibat hujan deras yang membuat Sungai Batu Gaga meluap. Dampaknya sangat parah, dengan kerusakan rumah, fasilitas umum, dan jalan utama. Koordinator KSPPM Rocky Pasaribu melaporkan bahwa sejumlah rumah rusak dan ratusan kepala keluarga terdampak. Banyak warga turut membersihkan wilayah terdampak untuk pulih kembali.
Penyebab banjir menjadi perdebatan, dari faktor cuaca hingga kerusakan hutan hulu sekitar Parapat. Pdt Tinambunan dari HKBP menegaskan bahwa kerusakan alam adalah akibat ulah manusia. Investigasi dari KSPPM, AMAN, dan Auriga Nusantara menemukan bahwa pembukaan hutan di sekitar Parapat dalam 20 tahun terakhir menyebabkan hilangnya keberlanjutan hutan dan meningkatkan risiko banjir serta longsor.
Perusahaan Toba Pulp Lestari (TPL) dinilai berkontribusi besar dalam deforestasi kawasan Aek Nauli, Simalungun. Pemerintah daerah Simalungun perlu mengambil langkah serius untuk menghentikan pembukaan hutan alam yang berdampak negatif bagi lingkungan. Tindakan segera diperlukan untuk mencegah risiko bencana di masa depan. Yang perlu menjadi perhatian serius adalah evaluasi tata ruang dan pemulihan kawasan hutan yang kritis di wilayah daerah aliran Sungai Bolon-Simalungun.


