Provinsi Jawa Tengah dipandang sebagai contoh industri pengolahan padi yang dapat dijadikan tauladan dalam upaya menjaga ketahanan pangan dan mencapai swasembada pangan. Wamen Pertanian Sudaryono, atau Mas Dar, mengungkapkan bahwa Jawa Tengah telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam pengelolaan sektor pertanian yang lebih kuat dan berkelanjutan. Menurutnya, kualitas beras di Jateng lebih baik, didukung oleh penyerapan yang efektif oleh Bulog. Mas Dar menilai Jawa Tengah bisa menjadi percontohan dalam industri pengolahan padi.
Meskipun memiliki luas baku sawah yang lebih kecil daripada Jawa Barat, pemerintah terus berupaya meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dari dua kali panen dalam setahun menjadi tiga kali panen. Fokus saat ini adalah pada peningkatan infrastruktur irigasi, dengan anggaran Rp12 triliun untuk mengaliri sekitar 2 juta hektare lahan pertanian. Mas Dar menekankan pentingnya infrastruktur irigasi yang baik untuk memastikan pasokan air yang cukup bagi pertanian.
Selain itu, pengadaan gabah sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) juga menjadi sorotan. Mas Dar menyoroti kemajuan yang menggembirakan dalam pengadaan gabah di Jawa Tengah. Dia memberikan apresiasi terhadap kinerja Bulog yang semakin responsif dan melakukan perbaikan dalam sistem kerjanya. Mas Dar juga mengajak untuk melaporkan kendala atau kekurangan dalam pengadaan gabah langsung ke pimpinan wilayah (Pinwil) agar dapat ditangani dengan cepat.


