NICL, perusahaan tambang nikel, mencatat laba sebesar Rp318,75 miliar meskipun harga nikel mengalami penurunan. Penjualan NICL mencapai Rp1,44 triliun, naik 26,37% dibandingkan tahun sebelumnya. Permintaan nikel di Indonesia menurun namun NICL berhasil meningkatkan volume penjualannya menjadi 2.300.914,78 mt dari 1.848.007,82 mt tahun sebelumnya. Efisiensi biaya produksi membantu NICL meningkatkan laba kotor menjadi Rp517,26 miliar, tumbuh 278,50% YoY pada 2024. Meskipun harga nikel domestik turun 9,19%, NICL tetap optimis dan berhasil meningkatkan volume penjualan sesuai dengan RKAB. Direktur Utama NICL, Ruddy Tjanaka, menyatakan bahwa perusahaan berhasil mencapai target produksi dan efisiensi biaya produksi.








