Pemanfaatan lahan marginal untuk budidaya serai wangi telah menjadi peluang cuan yang menjanjikan. Di Desa Bukit Mulia, di sekitar Tambang Kintap, tanaman serai wangi tumbuh subur di lahan yang kurang produktif. Meskipun nilai ekonominya belum terlalu tinggi, serai wangi dipilih oleh petani karena toleran terhadap kondisi tanah yang tidak subur.
Meski begitu, masih banyak petani yang belum optimal dalam menggarap tanaman serai wangi karena keterbatasan pengetahuan. Melihat potensi tanaman ini, Arutmin Indonesia bekerjasama dengan berbagai pihak untuk memaksimalkan pemanfaatan serai wangi. Selain fokus pada produksi batu bara, Arutmin juga berkomitmen untuk menjaga lingkungan dan memperhatikan keberlanjutan ekonomi di wilayah operasionalnya.
Program bioaditif serai wangi inisiasi dekat Tambang Kintap merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan tanah kritis dengan baik. Melalui program Terangi Simantap, petani dapat diberdayakan dan manfaat ekonomi dari budidaya serai wangi dapat dirasakan oleh ratusan tenaga kerja dan warga desa. Program ini tidak hanya membuka peluang usaha baru tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Kolaborasi dengan Universitas Islam Indonesia dalam mengembangkan pengolahan minyak atsiri serai wangi menjadi bahan bioaditif juga memberikan dampak positif bagi perusahaan dan lingkungan sekitar. Diharapkan inovasi ini dapat membawa manfaat yang luas dan memberikan penghematan serta penurunan emisi CO2 yang signifikan. Melalui upaya bersama inilah, budidaya serai wangi di lahan marginal dapat menjadi sumber cuan yang menguntungkan dan berkelanjutan.








