Wednesday, May 20, 2026
HomeLenggang JakartaLangkah Awal Pemaafan: Mengakui Emosi dengan Jujur

Langkah Awal Pemaafan: Mengakui Emosi dengan Jujur

- Advertisement -
- Advertisement -

Langkah Pertama Menuju Memaafkan: Berani Mengakui Emosi yang Muncul

Menjelang Lebaran 2025 atau Idul Fitri 1446 Hijriah, momen saling memaafkan kembali menjadi sorotan. Namun, menurut Psikolog Meriyati, M.Psi, proses itu tidak dimulai dari ucapan maaf semata. Langkah awal yang justru paling penting adalah berani mengakui emosi yang sedang dirasakan, entah itu marah, kecewa, tersinggung, atau sakit hati. Menekan perasaan hanya akan membuat beban batin menumpuk, sementara menerima emosi secara jujur dapat membuka jalan bagi pengampunan yang lebih sehat dan realistis.

Memaafkan Bukan Sekadar Urusan Sosial

Meriyati menegaskan, memaafkan bukan hanya tindakan yang menyenangkan secara sosial, tetapi juga punya dampak nyata bagi kesehatan mental dan fisik. Sejumlah studi menunjukkan bahwa sikap memaafkan dapat membantu menurunkan stres, menjaga kesehatan jantung, dan memperbaiki kesejahteraan emosional. Sebaliknya, emosi negatif yang dipelihara terlalu lama dapat membuat tubuh terus berada dalam kondisi tegang.

Ia menjelaskan, kemarahan dan dendam bisa memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko tekanan darah tinggi hingga gangguan kecemasan. Karena itu, memaafkan dipandang sebagai langkah yang layak ditempuh, meski prosesnya tidak selalu mudah.

Belajar Melepaskan Beban Emosional

Menurut Meriyati, salah satu hambatan terbesar dalam memaafkan adalah anggapan bahwa tindakan itu hanya menguntungkan orang lain. Padahal, memaafkan juga merupakan bentuk perlindungan bagi diri sendiri. Dengan melepaskan beban emosional, seseorang memberi ruang bagi dirinya untuk pulih, bernapas lebih ringan, dan tidak terus terjebak dalam luka yang sama.

Ia juga menyarankan agar seseorang mencoba memahami alasan di balik perilaku orang lain. Melihat situasi dari konteks yang lebih luas bisa membantu menumbuhkan empati dan mengurangi penilaian yang terlalu keras. Dalam proses itu, seseorang bisa bertanya pada dirinya sendiri apakah ia juga mungkin melakukan kesalahan serupa jika berada di posisi yang sama.

Langkah sederhana yang bisa membantu

Untuk mendukung proses tersebut, Meriyati menyebut beberapa cara yang bisa dilakukan, seperti menulis jurnal, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau melakukan meditasi. Aktivitas-aktivitas ini dapat membantu seseorang mengenali emosi, menata pikiran, dan tidak larut dalam perasaan negatif terlalu lama.

Dengan menerima emosi apa adanya, mengelolanya secara sehat, lalu berusaha memahami sudut pandang orang lain, proses memaafkan bisa menjadi lebih mungkin dijalani. Dalam pandangan Meriyati, inti dari pengampunan bukanlah melupakan begitu saja, melainkan memberi kesempatan pada diri sendiri untuk berhenti membawa luka yang sama ke hari-hari berikutnya. Source link

Berita Terkait

Berita Populer