Kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat berpotensi menyulitkan Indonesia dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi. Pelemahan rupiah, IHSG, utang, dan sektor industri dengan pasar utama AS yang berpotensi melemah menjadi faktor utama dampak kebijakan tersebut. Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang ditargetkan mencapai 5% tahun ini, semakin tidak realistis akibat kebijakan tersebut. Langkah unilateral Presiden AS, Donald J. Trump, dianggap sebagai tindakan brutal dengan motif penyelamatan keuangan negara. Negara-negara lain seperti India, Vietnam, dan Korea Selatan telah mencoba melakukan negosiasi namun gagal total. Indonesia perlu memperkuat cadangan devisa, rekalibrasi APBN, pengetatan impor, penguatan industri jasa keuangan, kebijakan komprehensif, kerjasama perdagangan dengan negara lain, dan membentuk tim negosiasi yang siap bernegosiasi dengan AS saat kondisinya memungkinkan sebagai langkah menghadapi dampak kebijakan tarif AS. Pelemahan ekonomi global karena kebijakan AS menuntut kepemimpinan yang andal dan kabinet yang solid dari Pemerintahan Prabowo Subianto.








