Bank Indonesia yakin bahwa inflasi akan tetap terkendali pada kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada tahun 2025. Hal ini disampaikan sebagai respons terhadap data Indeks Harga Konsumen (IHK) yang menunjukkan inflasi sebesar 1,65 persen bulan ke bulan pada Maret 2025. Bank Indonesia menggarisbawahi pentingnya sinergi dengan Pemerintah dalam pengendalian inflasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) baik di tingkat Pusat maupun Daerah.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi inti tetap rendah, dengan inflasi inti Maret 2025 sebesar 0,24 persen bulan ke bulan dan 2,48 persen tahun ke tahun. Faktor-faktor seperti kenaikan harga komoditas global dan permintaan selama Hari Besar Keagamaan Nasional juga mempengaruhi inflasi inti. Kelompok volatile food mengalami inflasi yang lebih tinggi di bulan Maret, terutama disebabkan oleh kenaikan harga bawang merah, cabai rawit, dan daging ayam ras.
Di sisi lain, kelompok administered prices mengalami inflasi yang signifikan pada bulan Maret, terutama dikarenakan kenaikan harga tarif listrik setelah berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik. Namun, deflasi pada angkutan udara membantu menahan inflasi pada kelompok ini. Bank Indonesia optimis bahwa inflasi volatile food dapat tetap terkendali dengan dukungan sinergi antara Bank Indonesia, TPIP, dan TPID melalui GNPIP di seluruh daerah.
Secara keseluruhan, Bank Indonesia terus berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga dan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengendalikan inflasi agar tetap sesuai dengan target sasaran pada 2025.








