Pada bulan Maret 2025, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan penjualan eceran sebesar 8,3 persen secara bulanan atau month to month (mtm), dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2025 diproyeksikan mencapai 236,7. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan permintaan masyarakat menjelang Ramadhan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri, serta strategi retailer dalam memberikan potongan harga. Mayoritas kelompok yang mengalami peningkatan penjualan meliputi peralatan informasi dan komunikasi, makanan, minuman, tembakau, serta subkelompok sandang.
Kelompok peralatan informasi dan komunikasi diprediksi tumbuh sebesar 7,9 persen mtm, sedangkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau diprediksi tumbuh 9,3 persen mtm, dan subkelompok sandang diperkirakan tumbuh 17,6 persen mtm. Meskipun demikian, secara tahunan (year on year), pertumbuhan IPR Maret 2025 diproyeksikan hanya sebesar 0,5 persen yoy, lebih rendah dari 2,0 persen yoy pada bulan Februari 2025.
Kinjerja penjualan eceran secara tahunan didorong oleh pertumbuhan kelompok suku cadang dan aksesori (6,4 persen yoy), barang budaya dan rekreasi (1,6 persen yoy), serta makanan, minuman dan tembakau (1,4 persen yoy). Pada bulan Februari 2025, realisasi IPR meningkat sebesar 3,3 persen mtm, dengan kontraksi sebesar 4,7 persen mtm pada bulan sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh subkelompok sandang (4,6 persen mtm), kelompok makanan, minuman, tembakau (4,2 persen), dan bahan bakar kendaraan bermotor (0,4 persen mtm).
Selain itu, tekanan inflasi diprediksi turun dalam 3 bulan mendatang, tetapi relatif stabil dalam 6 bulan mendatang. Hal ini terlihat dari penurunan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Mei 2025 yang mencapai 148,3, lebih rendah dari periode sebelumnya. Sementara IEH Agustus 2025 mencapai 155,5 atau relatif stabil. Proyeksi ini menunjukkan harapan akan pertumbuhan penjualan eceran yang positif, terutama dalam beberapa kelompok tertentu.








