Pengamat Ekonomi-Perbankan dan Dosen Binus University, Doddy Ariefianto, menganggap negosiasi tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) sebagai langkah positif dalam menciptakan keseimbangan neraca perdagangan dan memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika ekonomi global. Dalam pertemuan resmi di Washington D.C, delegasi kedua negara semakin mendekat dengan kesepakatan untuk menyelesaikan negosiasi dalam waktu 60 hari. Kesepakatan ini mencakup pengembangan koridor rantai pasok yang kuat, penguatan kemitraan industri, serta penyusunan peta jalan perdagangan yang saling menguntungkan. Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapan untuk meningkatkan impor komoditas strategis seperti elpiji (LPG), minyak mentah, bensin, gandum, kedelai, pakan ternak, dan barang modal. Ini menjadi peluang bagi perusahaan AS untuk tumbuh di Indonesia dengan bantuan percepatan perizinan, insentif investasi, dan kemudahan prosedur impor. Negosiasi ini tidak hanya membahas perdagangan barang, tetapi juga kerja sama di sektor critical minerals, ekonomi digital, pengembangan SDM, dan teknologi. Indonesia dilihat sebagai kekuatan penyeimbang di tengah rivalitas China dan AS, dan perlu mempertahankan hubungan yang seimbang dengan kedua negara. Negosiasi ini dilakukan oleh empat tokoh utama dari Indonesia, termasuk Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menlu Sugiono, Wamen Keuangan Thomas Djiwandono, dan Wakil Ketua Dewan Energi Nasional Mari Elka Pangestu. Kompleksitas hubungan dagang global menuntut Indonesia untuk galang kekuatan bersama negara lain dan mendukung World Trade Organization (WTO) untuk menjaga stabilitas perdagangan internasional.








