Saturday, May 16, 2026
HomeLintas KotaAnalisis Tarif Air Minum dan Inflasi Jakarta Juni 2025

Analisis Tarif Air Minum dan Inflasi Jakarta Juni 2025

- Advertisement -
- Advertisement -

Tarif Air Minum Jadi Pendorong Utama Inflasi Jakarta pada Juni 2025

Tarif air minum kembali menjadi sorotan dalam pergerakan harga di Jakarta. Pada Juni 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat komoditas ini sebagai penyumbang terbesar inflasi tahunan ibu kota, dengan andil mencapai 0,63 persen. Di tengah tekanan harga dari sejumlah kebutuhan pokok, Jakarta tetap mampu menjaga laju inflasi pada مستوى yang relatif terkendali.

Perumahan dan Pangan Masih Menjadi Penentu

Kepala BPS DKI Jakarta, Nurul Hasanudin, menjelaskan bahwa inflasi tahunan Jakarta pada Juni 2025 tercatat sama seperti bulan sebelumnya, yakni Mei 2025. Kondisi ini menunjukkan stabilitas harga masih terjaga, meski beberapa komoditas tetap memberi tekanan. Selain tarif air minum, penyumbang inflasi tahunan lainnya adalah emas perhiasan sebesar 0,43 persen, beras 0,08 persen, kopi bubuk 0,06 persen, serta bawang merah 0,06 persen.

Jika dilihat dari kelompok pengeluaran, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi kelompok dengan andil inflasi tertinggi, yakni 0,70 persen. Setelah itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang 0,49 persen. Data ini memperlihatkan bahwa kebutuhan dasar rumah tangga masih menjadi faktor paling dominan dalam membentuk inflasi Jakarta.

Inflasi Bulanan Naik Tipis, Pangan Jadi Pemicu

Secara bulanan, inflasi Jakarta pada Juni 2025 tercatat 0,13 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,09 persen. Di dalam kelompok ini, daging ayam ras, tomat, cabai rawit, dan sawi putih disebut sebagai komoditas yang paling berpengaruh terhadap kenaikan harga.

Stabil di Batas Target

Di tengah dinamika harga tersebut, Jakarta masih berada dalam jalur pengendalian inflasi yang sesuai target, yaitu 2,5 persen plus minus 1. Capaian ini penting untuk menjaga stabilitas daya beli sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah ibu kota, terutama saat tekanan harga datang dari komoditas rumah tangga dan pangan yang paling dekat dengan kebutuhan harian warga.

Source link

Berita Terkait

Berita Populer