Singkong, tanaman yang sudah lama menjadi bagian dari sejarah pertanian di Indonesia, kini menghadapi dilema. Para petani merasa harga singkong terlalu rendah, sementara pabrikan meragukan kualitas kadar patinya. Untuk menemukan solusi, modernisasi di bidang pertanian menjadi jalan tengah yang perlu ditempuh.
Indonesia, dengan iklim tropis dan tanah yang subur, telah lama mengandalkan singkong sebagai sumber pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri. Tanaman ini sebenarnya bukan asli Indonesia, namun diperkenalkan oleh Portugis dari Amerika Selatan melalui Filipina. Namun, singkong diterima dengan baik di Indonesia dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.
Singkong memiliki tempat yang istimewa di hati rakyat Indonesia, dengan beragam nama lokal di setiap daerah. Meskipun singkong sudah dianggap sebagai komoditas lokal, Indonesia masih bergantung pada impor tepung tapioka dan produk singkong lainnya. Pasokan dari dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan industri dalam hal harga, kualitas, dan ketersediaan yang memadai.
Melihat kondisi ini, modernisasi dan peningkatan efisiensi dalam budidaya singkong perlu dilakukan agar Indonesia dapat mandiri dalam produksi dan meminimalkan ketergantungan pada impor. Dengan langkah yang tepat, singkong bisa menjadi aset berharga yang mendukung ketahanan pangan dan industri dalam negeri.


