Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 sekitar 4,8 persen plus minus 0,1 persen year on year (yoy) dengan inflasi rendah sekitar 1,9 persen plus minus 0,5 persen yoy. Menurut Kepala Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas, Aviliani, pertumbuhan ini dipengaruhi oleh kendala baik dari faktor eksternal maupun internal. Proyeksi menunjukkan kisaran nilai tukar rupiah yang stabil antara Rp16.300–Rp16.700 per dolar Amerika Serikat (AS).
Perbanas mengamati bahwa kondisi ini dapat membuka peluang untuk pelonggaran kebijakan moneter, meskipun masih ada tantangan likuiditas yang perlu diwaspadai. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) diperkirakan sekitar 4,38 persen plus minus 1 persen yoy, sementara pertumbuhan kredit mencapai 8,7 persen 1 persen yoy. Pentingnya lima pilar utama perekonomian seperti inflasi, daya beli, transmisi kebijakan moneter, kredit, DPK, dan stabilitas nilai tukar telah diidentifikasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Data kuartal 1 dan 2 tahun 2025 menunjukkan bahwa penurunan suku bunga global dan inflasi yang rendah memberikan kesempatan untuk ekspansi usaha, berdampak pada efisiensi penghimpunan dana masyarakat. Meskipun demikian, perbankan harus bersiap menghadapi peluang dan tantangan yang disebabkan oleh tren inflasi rendah dan suku bunga yang stabil. Proyeksi inflasi yang cenderung terkontrol memberikan optimisme, tetapi perlambatan ekonomi harus diantisipasi dengan strategi kredit yang adaptif.
Aviliani mengungkapkan bahwa pemerintah memiliki kewenangan memberikan stimulus untuk meningkatkan inflasi di atas 5 persen. Selain itu, upaya pemerintah untuk mengendalikan harga bahan pokok dapat membantu menjaga inflasi tetap rendah. Dalam situasi ekonomi global yang bergejolak, Indonesia dianggap masih beruntung dan perlu terus beradaptasi untuk memperkuat perekonomian.


