Pola makan pertama seorang anak kerap menentukan arah tumbuh kembangnya, namun di Indonesia, urusan MPASI masih sering terseret antara kebiasaan lama dan anjuran medis yang terus diperbarui. Di satu sisi, keluarga mewarisi pola asuh turun-temurun yang dianggap aman. Di sisi lain, tenaga kesehatan menekankan bahwa pilihan makanan pada masa awal kehidupan tidak bisa didasarkan pada mitos semata.
Mitos MPASI yang Masih Bertahan
Salah satu anggapan yang masih kuat adalah keyakinan bahwa sayuran dan buah saja sudah cukup untuk mencegah stunting. Padahal, anak juga membutuhkan protein hewani yang mengandung asam amino esensial untuk mendukung pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak. Ketimpangan informasi seperti ini membuat banyak orang tua tanpa sadar menerapkan pola makan yang kurang ideal pada masa emas anak.
Praktik Tradisional yang Berisiko
Sejumlah kebiasaan lama juga menyimpan risiko kesehatan. Pemberian madu sebelum anak berusia satu tahun, misalnya, dapat memicu infant botulism. Begitu pula dengan memperkenalkan makanan padat seperti pisang sebelum usia enam bulan, yang berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan. Di tengah derasnya informasi dari media sosial dan promosi MPASI instan, orang tua justru semakin mudah bingung memilih rujukan yang benar.
Edukasi Harus Lebih Sederhana dan Tepat Sasaran
Para ahli menilai, kunci menghadapi persoalan ini bukan sekadar menambah informasi, melainkan menyampaikannya dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan konsisten. Edukasi tentang pentingnya protein hewani lokal dalam MPASI perlu diperkuat agar lebih mudah diterima keluarga. Upaya ini bukan hanya tugas tenaga medis, tetapi juga membutuhkan peran lingkungan sekitar agar pola asuh yang lebih tepat bisa menjadi kebiasaan baru. Source link


