Nama Oto Iskandar di Nata mungkin paling akrab bagi banyak orang lewat uang kertas Rp20.000 keluaran 1992. Namun di balik potret itu, tersimpan kisah seorang tokoh pergerakan yang hidupnya dipenuhi kerja pendidikan, politik, dan pengabdian pada tanah air. Dikenal dengan julukan Si Jalak Harupat, Oto bukan sekadar pahlawan nasional, melainkan sosok yang menempatkan kepentingan rakyat pribumi di garis depan perjuangannya.
Awal Hidup dan Pendidikan
Oto Iskandar di Nata lahir di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, pada 31 Maret 1897. Ia berasal dari keluarga terpandang, yang memberinya kesempatan menempuh pendidikan terbaik pada masanya. Ia memulai sekolah di HIS Bandung, lalu melanjutkan ke Sekolah Guru di kota yang sama. Pendidikan formalnya kemudian dituntaskan di Sekolah Guru Atas Purworejo pada 1920.
Bekal pendidikan itu membawanya kembali ke dunia pengajaran. Oto bekerja sebagai guru dan kepala sekolah, sekaligus menunjukkan kepedulian yang kuat terhadap nasib masyarakat pribumi. Dari ruang kelas hingga lingkungan sosial yang lebih luas, namanya perlahan dikenal sebagai sosok yang tegas dan berpihak pada kepentingan bangsanya.
Terjun ke Pergerakan Nasional
Semangat nasionalisme Oto mendorongnya masuk ke berbagai organisasi pergerakan. Ia pernah menjabat Ketua Paguyuban Pasundan, menjadi anggota Volksraad, dan memimpin surat kabar Tjahaja. Peran-peran itu membuat suaranya semakin berpengaruh dalam percakapan politik pada masa kolonial.
Di masa pendudukan Jepang, Oto tetap aktif dalam BPUPKI dan PPKI. Keterlibatannya menempatkannya di lingkaran penting menjelang lahirnya Indonesia merdeka. Setelah proklamasi, ia dipercaya menjadi Menteri Negara dalam kabinet pertama Republik Indonesia, sebuah posisi yang menunjukkan besarnya kepercayaan terhadap kapasitas dan rekam jejaknya.
Akhir Tragis Seorang Pejuang
Perjalanan hidup Oto berakhir dengan cara yang memilukan. Pada Desember 1945, ia diculik oleh Laskar Hitam dan kemudian ditemukan meninggal dunia di daerah Mauk, Tangerang. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga dan orang-orang terdekat, tetapi juga bagi sejarah bangsa yang kehilangan salah satu tokoh penting di masa awal kemerdekaan.
Meski raganya telah tiada, nama Oto Iskandar di Nata tetap hidup melalui jejak perjuangannya—dari dunia pendidikan, pers, hingga panggung politik nasional, termasuk saat wajahnya hadir di lembar uang Rp20.000.
Source link


