Reformasi WTO, Budi Santoso Dorong Perubahan yang Inklusif dan Berpihak pada Anggota
Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso menegaskan bahwa reformasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) tidak boleh berjalan setengah hati. Dalam Informal WTO Working Dinner di Gqeberha, Afrika Selatan, ia menekankan perlunya pembaruan yang inklusif, berorientasi pada anggota, dan mampu menjawab tekanan besar yang kini dihadapi sistem perdagangan multilateral.
WTO Dihadapkan pada Krisis Kepercayaan
Budi menilai, situasi global yang bergejolak telah membuat kepercayaan terhadap WTO ikut menurun. Di berbagai forum, lembaga ini kerap dianggap kehilangan relevansi. Namun, menurutnya, persoalan utama bukan pada keberadaan WTO semata, melainkan pada perbedaan pandangan antarnegara anggota yang belum terjembatani dengan baik.
Karena itu, ia menilai reformasi harus ditempatkan sebagai agenda bersama, bukan sekadar dorongan untuk memperbaiki citra institusi. Reformasi yang dibutuhkan, kata Budi, harus mampu menghidupkan kembali semangat kebersamaan antaranggota agar WTO tetap menjadi ruang utama bagi perdagangan dunia.
Bukan Sekadar Perbaikan Kelembagaan
Dalam pandangannya, reformasi WTO harus dimaknai lebih luas daripada sekadar membenahi struktur organisasi. Pembaruan aturan, penyesuaian proses negosiasi, hingga cara kerja lembaga perlu dibuat lebih responsif terhadap tantangan global yang terus berubah.
Budi juga menyoroti pentingnya prinsip pengambilan keputusan berbasis konsensus. Meski menjadi ciri utama WTO, mekanisme ini kerap memunculkan kebuntuan prosedural. Karena itu, ia mendorong agar anggota mencari jalan agar proses tetap berjalan tanpa mengorbankan prinsip dasar organisasi.
Penyelesaian Sengketa Masih Jadi Ujian
Selain isu negosiasi, Budi turut menekankan pentingnya mekanisme penyelesaian sengketa. Ia mencatat bahwa jumlah kasus formal yang diajukan ke WTO terus meningkat, menandakan bahwa kebutuhan terhadap lembaga ini masih nyata. Di tengah berbagai tekanan, sistem multilateral itu tetap bekerja, meski dalam kondisi yang melemah.
Menurutnya, situasi tersebut justru menjadi alasan mengapa pembenahan perlu segera dilakukan. Reformasi harus memastikan WTO kembali dapat diterima oleh seluruh anggota dan menjalankan fungsinya secara efektif.
Reformasi Bertahap, Tanggung Jawab Bersama
Budi mendorong agar reformasi dilakukan secara bertahap dengan pijakan pada kesadaran kolektif negara-negara anggota. Ia menolak pendekatan yang menjadikan institusi sebagai kambing hitam, karena WTO pada dasarnya adalah organisasi yang dijalankan oleh para anggotanya sendiri.
Dengan kata lain, keberhasilan maupun kegagalan WTO sangat bergantung pada komitmen anggota dalam menjaga tiga pilar utamanya: pemantauan, penyelesaian sengketa, dan negosiasi. Meski dua pilar terakhir menghadapi tantangan politik yang tidak ringan, ia meyakini perubahan yang ditempuh bersama dapat membawa arah baru bagi lembaga tersebut.
Di tengah tekanan terhadap sistem perdagangan global, pesan Budi Santoso jelas: WTO hanya bisa bertahan jika reformasinya dibangun dari semangat inklusif, bukan saling menyalahkan. Source link


