Wednesday, May 20, 2026
HomeFinansialMenjadi Masyarakat Inklusif: Disabilitas dan Pasar Modal

Menjadi Masyarakat Inklusif: Disabilitas dan Pasar Modal

- Advertisement -
- Advertisement -

Disabilitas dan Pasar Modal: Saat Teknologi Membuka Jalan Investasi yang Lebih Setara

Di tengah pembahasan soal inklusi keuangan, kisah Tutus Setiawan menunjukkan satu hal penting: pasar modal tak lagi bisa dipandang sebagai ruang yang hanya milik mereka yang “sempurna” secara fisik. Guru bahasa Indonesia sekaligus pengajar pijat di Sekolah Luar Biasa (SLB) Surabaya itu kehilangan penglihatan akibat kecelakaan saat berusia delapan tahun, tetapi justru menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk terus melangkah. Selama lebih dari dua dekade, ia membimbing murid-murid tunanetra agar memiliki keterampilan pijat dan mampu hidup mandiri.

Dari ruang kelas ke panggung pasar modal

Pengalaman Tutus menjadi sorotan ketika ia berbicara dalam Capital Market Summit & Expo 2025. Dalam forum itu, ia menekankan bahwa investasi saham bisa menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kesejahteraan penyandang disabilitas. Bagi Tutus, akses terhadap investasi bukan sekadar urusan cuan, melainkan soal kesempatan yang setara untuk mengelola masa depan secara mandiri.

Minatnya terhadap saham ternyata sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMA. Langkah lebih serius baru ia ambil pada 2018, setelah mengikuti Sekolah Pasar Modal yang diselenggarakan BEI Jawa Timur. Perjalanan itu tidak mulus. Di awal, ada sekuritas yang sempat meragukan kemampuannya. Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya mundur. Justru dari situ Tutus membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk menutup pintu investasi.

Teknologi jadi alat bantu, bukan batasan

Dengan memanfaatkan pembaca layar di ponsel pintar, Tutus mulai berinvestasi menggunakan modal Rp5 juta yang ia kumpulkan dari hasil menjual alat-alat disabilitas. Ia belajar secara bertahap, termasuk memahami pentingnya keberanian, bimbingan, serta pengelolaan risiko. Dari proses itu pula ia menyadari bahwa investasi tidak bisa dilakukan hanya bermodal semangat; analisis tetap menjadi kunci.

Tutus mengaku sempat merasakan rugi karena kurang cermat membaca situasi. Pengalaman itu membuatnya beralih menjadi investor jangka panjang. Kini, ia juga menggunakan perkembangan teknologi untuk membantu teman-teman tunanetra menganalisis perusahaan dengan lebih akurat. Bagi dirinya, teknologi seharusnya memperluas akses, bukan sekadar memudahkan hidup sehari-hari.

Jejak serupa dari kampus ke layar ponsel

Kisah lain datang dari Toviyani Widi Saputri, mahasiswi tunanetra di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia memanfaatkan aplikasi Android yang dilengkapi fitur Talkback untuk membaca grafik dan melakukan transaksi secara mandiri. Aplikasi tersebut membantunya memahami informasi di layar secara menyeluruh, sehingga proses investasi bisa dijalankan tanpa harus selalu bergantung pada orang lain.

Cerita Tutus dan Toviyani memperlihatkan bahwa inklusi di pasar modal bukan lagi wacana kosong. Ketika teknologi, edukasi, dan keberanian bertemu di titik yang sama, penyandang disabilitas tidak hanya bisa menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif dalam dunia investasi. Source link

Berita Terkait

Berita Populer