Ketua Satuan Tugas Perumahan, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa pembangunan perumahan dapat memberikan dampak besar terhadap perekonomian nasional. Hashim menyatakan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan dalam pembangunan perumahan memiliki dampak ekonomi yang signifikan, berkisar antara 1,5 sampai 5 kali lipat. Saat ini, masih ada sekitar 27 juta keluarga di Indonesia yang tinggal di rumah tidak layak huni, sementara jumlah keluarga yang memerlukan hunian layak berkisar antara 9 juta hingga 15 juta keluarga.
Program 3 Juta Rumah yang dijalankan oleh pemerintah diyakini dapat membantu mengatasi masalah perekonomian ini. Pembangunan properti melibatkan 185 bidang ekonomi, yang membuatnya menjadi penggerak ekonomi yang signifikan. Sektor perumahan diperkirakan dapat menyumbang sebesar 1,5 hingga 2 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah sedang gencar menggarap lahan-lahan untuk pembangunan perumahan di berbagai daerah, termasuk lahan di Depok, Jakarta Pusat, dan Cikarang. Pembangunan perumahan melibatkan kerjasama aktif antara pemerintah dan swasta. Rosan Roeslani, CEO Danantara Indonesia, juga menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan hunian vertikal, terutama di lahan yang telah diberikan oleh Lippo Group kepada pemerintah.
Dengan adanya kolaborasi antara berbagai pihak, diharapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dapat tercapai. Pembangunan perumahan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat perekonomian nasional. Keseluruhan, pembangunan perumahan dapat menjadi kunci untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.


