Majelis Ahli Iran telah resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung ketiga dari Republik Islam Iran setelah pemimpin sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Keputusan ini mendapat reaksi keras dari Washington dan ancaman baru dari Yerusalem. Presiden AS, Donald Trump, mengekspresikan ketidaksetujuannya terhadap kenaikan jabatan Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa ia menginginkan seorang pemimpin yang mampu membawa stabilitas ke kawasan tersebut.
Trump menegaskan bahwa yang terpenting bukanlah sistem demokrasi di Iran, melainkan sikap politik pemimpin tersebut terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Israel juga mengeluarkan peringatan keras, bersumpah untuk menargetkan siapa pun yang menggantikan Ayatollah Ali Khamenei. Pemerintah Israel menyatakan akan terus memantau proses suksesi ini dengan ketat.
Sementara itu, Majelis Ahli Iran menyerukan masyarakat untuk mendukung kepemimpinan baru. Mereka juga mendesak rakyat, terutama para sarjana, akademisi, dan elite nasional, untuk setia kepada kepemimpinan Mojtaba Khamenei. Majelis menyatakan bahwa pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin ketiga sejak revolusi 1979 dilakukan secara konstitusional untuk menghindari kekosongan kekuasaan di Iran. Selain itu, mereka mengklaim bahwa langkah cepat ini merupakan upaya untuk menjaga persatuan di bawah prinsip Velayat-e Faqih.


