Di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak dunia, Bank DBS memilih tetap tenang membaca pasar Asia Tenggara. Bagi bank asal Singapura itu, gejolak geopolitik memang layak diwaspadai, tetapi belum cukup kuat untuk mengubah pandangan mereka terhadap ekuitas negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.
ASEAN Dinilai Punya Penyangga Ekonomi yang Kuat
Senior Investment Strategist DBS, Joanne Goh, menilai fondasi ekonomi kawasan masih cukup kokoh untuk meredam tekanan eksternal. Menurut dia, sejumlah negara di Asia Tenggara berada dalam posisi yang relatif kuat karena karakter ekonominya sebagai negara industri sekaligus pengekspor komoditas energi. Singapura, misalnya, masih dipandang sebagai safe haven bagi arus modal asing di saat pasar global bergejolak.
Indonesia juga disebut punya ruang untuk mengambil manfaat dari perubahan harga komoditas. Joanne menyoroti potensi peningkatan produksi dan ekspor komoditas energi strategis seperti batu bara dan minyak sawit, yang dapat menjadi bantalan ketika ketidakpastian global meningkat. Ia menilai krisis di Timur Tengah tidak akan berlangsung lama dan dampaknya terhadap prospek ekuitas Asia Tenggara kemungkinan terbatas.
Obligasi Rupiah Masih Menarik di Tengah Ketidakpastian
Di sisi lain, Senior Investment Strategist Bank DBS Daryl Ho melihat peluang masih terbuka di instrumen utang rupiah. Menurutnya, obligasi rupiah tetap menawarkan imbal hasil yang stabil dan menarik, apalagi jika dibandingkan dengan obligasi berbasis dolar AS. Ia juga mengingatkan bahwa obligasi Indonesia tenor 10 tahun masih memberikan yield yang lebih tinggi daripada obligasi pemerintah AS.
Meski demikian, Daryl mencatat pasar obligasi negara berkembang secara umum masih berada dalam posisi underweight, termasuk obligasi rupiah. Kondisi ini menunjukkan investor global belum sepenuhnya kembali agresif masuk ke aset berisiko, walaupun selisih imbal hasil masih cukup menggiurkan.
Perhatian Tertuju pada Defisit APBN 2026
Daryl turut menyoroti proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang diperkirakan mencapai Rp698,15 triliun atau setara 2,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Menurut dia, angka tersebut perlu dijaga agar tidak melebar lebih jauh karena investor di pasar emerging markets cenderung sangat sensitif terhadap arah fiskal suatu negara.
Ia menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan anggaran di tengah ketidakpastian global dan tekanan dari harga energi. Bagi DBS, kombinasi fundamental kawasan yang masih solid, peluang di aset rupiah, serta disiplin fiskal menjadi alasan utama mengapa pandangan terhadap Asia Tenggara tetap positif, meski konflik di Timur Tengah belum mereda.
Source link


