Friday, April 17, 2026
HomeFinansialGubernur BI: Ruang Penurunan BI-Rate Semakin Tertutup

Gubernur BI: Ruang Penurunan BI-Rate Semakin Tertutup

- Advertisement -
- Advertisement -

Pada Rapat Kerja dengan Komisi XI di Jakarta, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa ke depan, ruang penurunan suku bunga acuan atau BI-Rate akan semakin tertutup. Hal ini dikarenakan ketidakpastian global yang muncul akibat perang di Timur Tengah. Meskipun BI-Rate tetap dipertahankan pada 4,75 persen, Perry menekankan perlunya keseimbangan antara stabilisasi nilai tukar rupiah, intervensi, dan pengendalian arus keluar dana. Bank Indonesia juga mulai memperkuat lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejak awal tahun untuk menarik kembali arus masuk dana. Langkah ini merupakan bagian dari rekalibrasi kebijakan moneter yang lebih menitikberatkan pada stabilitas ekonomi. Selain itu, BI terus melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder guna menjaga likuiditas perbankan.

Situasi global yang semakin tidak pasti, terutama akibat konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, mempengaruhi berbagai sektor ekonomi dan keuangan. Hal ini tercermin dari kenaikan harga minyak dunia, gangguan rantai pasok dalam perdagangan, serta peningkatan ketidakpastian di pasar keuangan global. Perry juga mencatat bahwa terjadi kenaikan harga emas dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang meningkat tajam. Semua ini memberikan tekanan pada perekonomian Indonesia, terutama melalui kenaikan harga minyak dunia dan volatilitas arus portofolio masuk ke pasar emerging markets. Selain itu, penguatan dolar Amerika Serikat juga menambah tantangan bagi pasar keuangan global.

Dalam konteks ini, Bank Indonesia terus melakukan rekalibrasi kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi. Meskipun tidak mengisyaratkan penurunan suku bunga BI-Rate, BI tetap mempertahankan kebijakan tersebut pada level 4,75 persen sejak Oktober 2025. Langkah-langkah ini diambil untuk mengantisipasi dampak perang di Timur Tengah dan kondisi global yang semakin tidak pasti. Dengan demikian, upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dan menjaga likuiditas perbankan tetap menjadi fokus utama kebijakan moneter Bank Indonesia di tengah tantangan eksternal yang kompleks dan beragam.

Source link

Berita Terkait

Berita Populer