Pasar modal Indonesia sedang menarik perhatian dengan lonjakan minat perusahaan untuk melangsungkan Initial Public Offering (IPO). Menurut PT Bursa Efek Indonesia (BEI), saat ini ada 15 perusahaan dalam pipeline untuk mencatatkan saham di BEI. Langkah reformasi oleh otoritas pasar modal Indonesia pada awal tahun ini menjadi dorongan besar bagi perusahaan-perusahaan ini. Dari 15 perusahaan tersebut, sebanyak 11 perusahaan beraset skala besar di atas Rp250 miliar, sementara 4 perusahaan lainnya beraset skala menengah. Klasifikasi aset ini mengacu pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017.
Dari sisi sektor, perusahaan yang akan melaksanakan IPO berasal dari berbagai sektor seperti kesehatan, barang konsumen, infrastruktur, teknologi, energi, dan keuangan. Hingga 10 April 2026, satu perusahaan telah berhasil menjalankan IPO dengan dana terhimpun mencapai Rp302,4 miliar. Jumlah total perusahaan yang tercatat di pasar modal Indonesia adalah 957 perusahaan hingga tanggal tersebut, dengan target sebanyak 50 IPO sepanjang tahun.
Selain IPO, penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) juga menarik minat dengan penerbitan 50 emisi senilai Rp55,20 triliun. Saat ini, masih ada 40 emisi EBUS yang sedang dalam antrean. Selain itu, aksi rights issue juga telah dilakukan oleh tiga perusahaan dengan total nilai Rp3,75 triliun. Satu perusahaan sektor properti sedang bersiap untuk melangsungkan aksi rights issue.
Pasar modal Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang positif, dan diharapkan dapat memberikan kontribusi yang baik bagi perekonomian. Perusahaan-perusahaan yang berfokus pada IPO, EBUS, dan rights issue menandakan kepercayaan mereka terhadap pasar modal Indonesia. Semua ini mencerminkan dinamika pasar modal yang sedang berkembang di Indonesia.


