Saturday, May 16, 2026
HomeLainnyaKesiapan Nasional Jadi Sorotan dalam Diskusi Ancaman Perang Dunia

Kesiapan Nasional Jadi Sorotan dalam Diskusi Ancaman Perang Dunia

- Advertisement -
- Advertisement -

Pembicaraan mengenai kemungkinan terjadinya perang dunia baru semakin sering menghiasi percakapan di masyarakat, baik disebarkan lewat media sosial maupun perbincangan informal. Fenomena keresahan ini menjadi motivasi utama terselenggaranya IR Youth Talks#1 yang diadakan oleh Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) wilayah Jabodetabek.

Acara ini mengambil tempat di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP UI pada 21 April 2026, dan menghadirkan diskusi terbuka mengenai kondisi geopolitik dunia yang sedang tidak menentu.

Dengan tema “Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global”, forum ini membahas bagaimana posisi Indonesia di tengah situasi internasional yang penuh tekanan. Diskusi dimulai dari pemaparan Anggy Pasaribu—seorang jurnalis dan alumni Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan—yang mengajak audiens untuk merenungkan apakah rasa khawatir akan pecahnya perang dunia memang didasari data atau hanya ketakutan yang dibesarkan secara masif.

Alih-alih mencari jawaban pasti, Anggy mengajak peserta melepaskan prasangka dan memahami kompleksitas isu global agar tidak terjebak dalam kepanikan yang tidak sehat.

Menanggapi keresahan tersebut, Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso, Direktur Kajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI, menegaskan pentingnya sikap tenang, terutama bagi generasi muda. Menurutnya, diskusi soal perang dunia seharusnya tidak membuat bangsa lengah dalam memperkuat kesiapan menghadapi segala krisis yang bisa saja terjadi secara tiba-tiba.

Ia menyoroti, “Fokus utama bukan menebak datangnya perang, melainkan menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.”

Aloysius menjelaskan bagaimana Lemhannas selalu melakukan analisis terhadap kemungkinan ancaman global dengan pendekatan multidisiplin seperti net assessment dan perancangan skenario, demi memahami seberapa rentan Indonesia terhadap dampak eksternal.

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa sejumlah kerentanan nasional—seperti ketergantungan energi dan pangan dari luar negeri serta posisi geostrategis Indonesia di antara negara-negara besar di Indo-Pasifik—membuat dinamika global mudah berimbas pada kehidupan nasional, baik dari sisi perekonomian, ketahanan energi, ataupun ancaman keamanan.

Dalam pandangan Aloysius, Pancasila memiliki peran sentral sebagai pilar utama yang menjaga daya tahan bangsa di tengah gempuran kepentingan asing. Ia menekankan bahwa kekuatan suatu negara justru terletak pada ketahanan ideologi yang mampu mempersatukan masyarakat di tengah gejolak global.

“Selama nilai-nilai ideologis kita kuat, negara ini tidak mudah tergoyahkan oleh tekanan luar,” ujarnya tegas.

Dari sisi akademis, Broto Wardoyo—Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional UI—mengajak penonton melihat fenomena global secara lebih komprehensif. Ia menilai bahwa sejumlah konflik dan tekanan yang kini muncul lebih tepat dipahami sebagai manifestasi dari perubahan tatanan internasional, bukan sinyal pasti menuju perang dunia.

“Dunia sedang mengalami krisis-krisis yang saling terhubung,” jelas Broto, “tetapi arah dan dampaknya tetap sulit diprediksi sepenuhnya.”

Broto juga menyoroti berbagai tantangan yang saat ini menghadang, seperti gejolak geopolitik, krisis energi, sampai tekanan ekonomi yang saling berkaitan dan memperumit keadaan global. Ia menambahkan, figur-figur seperti Donald Trump telah menjadi katalis yang memperparah ketidakpastian global, lewat kebijakan-kebijakannya.

Untuk menghadapi masa depan yang serba tidak pasti, Broto memperkenalkan pendekatan hedging berbasis resiliensi, yaitu strategi yang menyeimbangkan fleksibilitas hubungan internasional dengan penguatan aspek domestik. Konsep ini diharapkan memungkinkan Indonesia tetap stabil di tengah perubahan global yang cepat dan mampu menahan dampak jika krisis benar-benar datang.

IR Youth Talks menjadi ajang penting untuk menjembatani pemahaman antara pembuat kebijakan, akademisi, dan mahasiswa lintas kampus agar isu-isu strategis tidak hanya dibicarakan di ranah elit, tetapi juga dimaknai dan dipertanyakan oleh generasi muda.

Program ini merupakan hasil kolaborasi enam kampus AIHII Jabodetabek—Universitas Indonesia, Universitas Pertamina, BINUS, Universitas Prof. Dr. Moestopo, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur.

Pada sesi sambutan, Jeanne Francoise dari President University menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda sangat vital agar pemahaman Hubungan Internasional tidak hanya tersentralisasi di kalangan tertentu melainkan dapat diakses seluruh mahasiswa dari berbagai kampus.

Forum tersebut membuktikan bahwa persoalan geopolitik dan dinamika internasional adalah isu nyata yang berpengaruh langsung pada kehidupan generasi penerus bangsa.

Di penghujung diskusi, Anggy menekankan pentingnya menjaga ruang dialog publik yang sehat. Ia mendorong generasi muda untuk tetap kritis, namun selalu menyampaikan pendapat secara bijak dan di ruang yang sesuai.

“Kritik akan selalu diperlukan, tetapi penyampaiannya harus penuh etika dan kontekstual,” pungkasnya.

Ditambahkan pula, partisipasi aktif dalam isu-isu publik tidak mesti dilakukan dengan cara yang frontal, namun dapat dimulai dengan sikap terbuka, pemahaman mendalam, serta kemampuan mengemukakan ide secara konstruktif.

Intinya, walaupun dunia penuh dengan ketidakpastian dan dinamika yang cepat berubah, reaksi yang paling baik bukanlah panik, melainkan memperkuat pemahaman dan kesiapan agar Indonesia selalu siaga menghadapi setiap tantangan global yang mungkin muncul ke depan.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko

Berita Terkait

Berita Populer