Rupiah Menguat di Tengah Penurunan Intensitas Serangan AS ke Iran
Jakarta (ANTARA) – Nilai tukar rupiah pada Rabu pagi berhasil menguat sebesar 34 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.390 per dolar AS, tetap stabil dari penutupan sebelumnya di level Rp17.424 per dolar AS. Penguatan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS, Donald Trump, terkait penurunan intensitas serangan ke Iran.
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyatakan bahwa rupiah mengikuti penguatan mayoritas mata uang regional akibat melandainya harga minyak dan index dollar setelah pernyataan dari Presiden Trump mengenai penurunan intensitas serangan ke Iran. Trump mengumumkan penundaan Project Freedom yang bertujuan menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz untuk mencari kesepakatan damai dengan Iran.
AS sepakat untuk tetap memberlakukan blokade penuh atas Selat Hormuz berdasarkan permintaan dari Pakistan dan negara lain. Project Freedom akan dijeda sementara guna mengevaluasi apakah kesepakatan damai dapat dicapai. Sentimen positif juga datang dari pasar domestik terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai level tertinggi sejak empat tahun terakhir, serta harapan akan kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia dalam kuartal ini.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan I 2026. Namun, secara triwulanan, ekonomi tercatat mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen (quarter-to-quarter/qtq) dibandingkan dengan triwulan IV 2025.
Dengan berbagai faktor tersebut, rupiah berhasil menguat pada perdagangan hari ini. Berbagai perkembangan terkait geopolitik dan ekonomi global masih akan mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah ke depannya.


