Rupiah Bangkit Kembali: Strategi All Out dari BI Untuk Stabilitas Mata Uang
JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa bank sentral tidak tinggal diam melihat pelemahan nilai tukar Rupiah. Rupiah sempat melemah ke Rp17.400 per USD, namun kini kembali menguat ke Rp17.333 per USD.
Langkah Tegas dari BI
Perry menyatakan bahwa BI telah menjalankan strategi all out untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, intervensi besar-besaran menggunakan cadangan devisa menjadi salah satu langkah utama yang dilakukan.
“Tolong diingat, cadangan devisa itu dikumpulkan pada saat panen inflow besar. Makanya kita gunakan untuk pada saat paceklik, pada saat outflow jumlahnya besar. Dan intervensinya itu tidak hanya di dalam negeri, tidak hanya tunai, tapi domestic non-delivery forward (DNDF),” ujar Perry.
Intervensi Berskala Global
Strategi intervensi yang dilakukan BI tidak hanya terfokus di dalam negeri, namun juga menjangkau pasar internasional secara around the world dan around the clock. BI aktif melakukan intervensi di pusat-pusat keuangan dunia seperti Hong Kong, Singapura, London, hingga New York untuk menjaga pergerakan Rupiah tetap stabil.
BI juga melibatkan bank-bank domestik untuk aktif melakukan transaksi NDF di luar negeri guna mendukung program pendalaman pasar uang di Tanah Air.
Solusi Melalui SRBI
Untuk mengatasi aliran modal keluar di pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN), BI menggunakan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Inflow dari SRBI mencapai Rp78,1 triliun secara year-to-date (ytd), yang efektif menambal outflow di pasar saham (Rp38,6 triliun) dan SBN (Rp11,7 triliun).
“Kalau rekan-rekan kita saham sama SBN outflow, masa SRBI juga harus outflow. Kan harus dikompensasi se-inflow kan. Nah secara total memang SRBI inflow-nya itu lebih gede dari net outflow-nya SBN year to date,” jelas Perry.


