BI Bali Siap Hadapi Risiko Inflasi dengan Sinergi dan Inovasi
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bali siap mengantisipasi risiko inflasi akibat dinamika ekonomi, geopolitik, hari besar keagamaan, dan pengaruh cuaca. Kepala Perwakilan BI Bali, Achris Sarwani, menyatakan kesiapan untuk menghadapi tantangan tersebut di Denpasar.
Langkah Pencegahan TPID Bali
BI Bali bersama pemerintah provinsi, sembilan kabupaten/kota di Bali, fokus pada pasar murah, pemantauan harga berkala, pengawasan pasokan elpiji bersubsidi, distribusi pangan, kerjasama antar-daerah oleh perumda pangan, koordinasi operasi pasar, dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
Selain itu, TPID Bali telah melakukan 66 pasar murah menjelang perayaan Nyepi dan Idul Fitri 2026. BI-TIPD Bali juga aktif mengawasi stok pangan menjelang perayaan Galungan.
Risiko Inflasi Bali 2026
Peningkatan harga barang dan jasa pada periode hari besar keagamaan Galungan-Kuningan, musim puncak kunjungan wisatawan, ketidakpastian cuaca akibat El Nino, serta kenaikan harga BBM dapat mempengaruhi inflasi di Bali. Menurut data BPS Provinsi Bali, inflasi bulanan Bali pada Mei 2026 mencapai 0,42 persen, sedangkan inflasi tahunan naik dari 2,08 persen menjadi 2,99 persen.
Meskipun terjadi peningkatan inflasi, level inflasi Bali masih berada dalam rentang sasaran nasional yaitu 1,5-3,5 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa upaya BI Bali bersama TPID dalam mengendalikan inflasi cukup efektif meskipun dihadapi oleh berbagai risiko yang kompleks.


