Penurunan PMI Sebagai Tantangan dan Momentum Perkuat Industri Nasional
Jakarta – Penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia menjadi 46,9 pada Juni 2026 menurut Ekonom Indef dan Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menjadi momentum untuk memperkuat transformasi industri nasional melalui investasi berkualitas dan perbaikan iklim usaha.
Sektor Industri Menghadapi Tantangan
Menurut Didik, angka PMI di bawah level 50 menunjukkan sektor industri sedang menghadapi tantangan, memerlukan kebijakan yang lebih konsisten untuk meningkatkan daya saing manufaktur dalam jangka panjang. PMI yang berada di zona bahaya merah menuntut perhatian serius untuk memperkuat sektor industri yang dianggap “sakit lama”.
Perkuat sektor industri menjadi penting karena pertumbuhan ekonomi membutuhkan dukungan aktivitas manufaktur yang kuat, investasi produktif, dan penciptaan lapangan kerja. Dunia usaha membutuhkan kepastian kebijakan, penyederhanaan birokrasi, serta insentif yang dapat meningkatkan minat investasi di sektor industri.
Transformasi Industri dan Pelajaran dari Vietnam
Didik menilai transformasi industri perlu didukung deregulasi dan debirokratisasi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus daya saing manufaktur Indonesia. Salah satu contoh keberhasilan adalah Vietnam yang membangun industri berorientasi ekspor melalui investasi asing langsung berkualitas dan meningkatkan kemampuan industri domestik melalui transfer teknologi dan inovasi.
Indonesia diharapkan dapat mengejar kesuksesan Vietnam dengan kebijakan transformasi industri yang konsisten, perbaikan iklim usaha, dan peningkatan kualitas investasi. Penguatan sektor industri dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan daya saing manufaktur dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan perekonomian global.
Optimisme Sektor Industri Nasional
Meski menghadapi tantangan global, sektor industri nasional dinilai masih optimis untuk tumbuh. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2026 berada pada level 52,90, menunjukkan zona ekspansi sektor industri. Pasar domestik yang besar, peningkatan belanja pemerintah, serta prospek ekspor yang membaik menjadi faktor pendorong optimisme pelaku industri.
Pemerintah terus memperkuat kebijakan hilirisasi, menjaga pasokan bahan baku, memperluas penggunaan produk dalam negeri, dan membuka akses pasar ekspor untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur. Implementasi program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dijadikan langkah strategis untuk memacu optimisme industri manufaktur dan meningkatkan daya saing nasional.


