Barantin dan FAO Jalin Kerja Sama untuk Memperkuat Biosekuriti
Jakarta (ANTARA) – Badan Karantina Indonesia (Barantin) bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperkuat sistem biosekuriti nasional melalui program manajemen risiko karantina hewan terintegrasi untuk menghadapi ancaman penyakit hewan lintas batas.
Menghadapi Ancaman Penyakit Hewan Lintas Batas
Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, menyatakan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat sistem karantina berbasis manajemen risiko, termasuk pengembangan peta hama penyakit yang terintegrasi dengan sistem peringatan dini.
Ia menekankan pentingnya memperkuat biosekuriti nasional untuk melindungi keamanan pangan dari ancaman seperti penyakit hewan lintas batas, zoonosis, dan spesies invasif yang dapat berdampak negatif pada ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan kelancaran perdagangan.
Program Kerja Sama dengan FAO
Program kerja sama ini dilaksanakan melalui Technical Cooperation Programme (TCP/INS/4101) “Strengthening Animal Quarantine Risk Management through Integrated Assessment and Response Toward Agri-Threats”. Kegiatan dimulai dengan Inception Workshop di Jakarta yang dihadiri lebih dari 50 peserta dari berbagai lembaga terkait.
Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin, Sriyanto, menyampaikan bahwa proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, integrasi dan digitalisasi sistem karantina, serta kesadaran terkait risiko.
Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, menegaskan bahwa ancaman penyakit hewan lintas batas, zoonosis, dan spesies asing invasif terus meningkat sehingga sistem biosekuriti yang terintegrasi sangat diperlukan. Kerja sama lintas sektor menjadi kunci untuk meningkatkan biosekuriti dalam negara.
Melalui kerja sama ini, diharapkan sistem perkarantinaan nasional semakin adaptif, terdigitalisasi, dan berorientasi pada pelayanan publik untuk mendukung ketahanan pangan serta daya saing perdagangan nasional.
Copyright © ANTARA 2026


