Rupiah Melemah Bersama Mata Uang Asia Lainnya
Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan sentimen risiko di kawasan. Pagi ini, nilai tukar rupiah turun 52 poin atau 0,29 persen menjadi Rp18.066 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp18.014 per dolar AS.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik yang terjadi, terutama akibat serangan militer AS terhadap Iran, memberikan dampak negatif terhadap harapan tercapainya suatu kesepakatan damai di kawasan tersebut. Selain itu, kejadian ini juga menciptakan masalah pelayaran yang lebih besar di Selat Hormuz, meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan di Timur Tengah.
Selain faktor geopolitik, harga minyak mentah yang naik hingga melampaui 75 dolar AS per barel juga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Di samping itu, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juni 2026 yang menunjukkan keprihatinan terhadap tekanan inflasi yang masih persisten turut memengaruhi sentimen terhadap rupiah.
Prospek Nilai Tukar Rupiah
Berdasarkan berbagai faktor tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp17.975 hingga Rp18.125 per dolar AS. Peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, perubahan harga minyak mentah, serta perhatian terhadap inflasi akan terus menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah ke depannya.


