Jakarta (ANTARA) – Rupiah terus melemah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, turun 46 poin atau 0,26 persen menjadi Rp18.009 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan sebelumnya.
Rupiah Melemah Akibat Faktor Eksternal dan Internal
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti pelemahan rupiah yang dipengaruhi oleh potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Sentimen pasar masih dipengaruhi oleh kebijakan hawkish dari The Fed, yang membuat peluang kenaikan suku bunga diprediksi mencapai 78 persen pada bulan September 2026.
Faktor eksternal lainnya yang memengaruhi pelemahan rupiah adalah gangguan dalam rantai pasok akibat ketegangan antara AS-Iran dan Houthi Yaman-Arab Saudi. Ketegangan ini memperlambat arus kapal pengangkut komoditas melalui Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Sentimen Dalam Negeri Mempengaruhi Pelemahan Rupiah
Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh isu mundurnya Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia. Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti kemudian diangkat sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga pengangkatan Gubernur definitif.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mengalami pelemahan menjadi Rp17.995 per dolar AS.
Semua faktor eksternal dan internal ini memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pergerakan pasar yang cenderung dinamis membutuhkan kehati-hatian ekstra dan kewaspadaan terhadap fluktuasi nilai tukar yang terus berlangsung.


