Sunday, August 9, 2026
HomeFinansialBCA Laporkan Laba Konsolidasi Rp29,5 Triliun di Semester I-2026

BCA Laporkan Laba Konsolidasi Rp29,5 Triliun di Semester I-2026

- Advertisement -
- Advertisement -







PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Raih Laba Rp29,5 Triliun di Semester I 2026

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Raih Laba Rp29,5 Triliun di Semester I 2026

Bank Central Asia (BCA) dan seluruh entitas anaknya mencatatkan laba bersih sebesar Rp29,5 triliun pada semester I tahun 2026, mengalami pertumbuhan tipis dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Prestasi Kinerja Perusahaan

Laba perusahaan ini didorong oleh penyaluran kredit yang tumbuh 8 persen (yoy) mencapai Rp1.036 triliun di semester pertama tahun 2026, mencapai level Rp1.000 triliun untuk pertama kalinya. Kinerja ini didukung oleh BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit ke berbagai sektor.

Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyatakan bahwa penyaluran kredit perseroan dilakukan dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perusahaan.

Pendanaan yang Kokoh

Prestasi kinerja juga ditopang oleh pertumbuhan giro dan tabungan (CASA) sebesar 10,2 persen (yoy) mencapai Rp1.082 triliun dan total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh 7,9 persen (yoy) mencapai Rp1.284 triliun. Sekitar 84,3 persen dari total DPK merupakan porsi CASA dengan Cost of Fund (CoF) yang tetap terjaga.

Hendra juga mengucapkan terima kasih atas kepercayaan nasabah yang telah memberikan dukungan sehingga BCA terus tumbuh dan menyediakan pelayanan terbaik.

Penyaluran Kredit Produktif

Penyaluran kredit perseroan didorong oleh segmen pembiayaan produktif yang tumbuh 11 persen (yoy) mencapai Rp802 triliun di semester I 2026. Pembiayaan korporasi tumbuh 13,6 persen (yoy), kredit komersial dan UKM tumbuh 6,6 persen (yoy), sementara kredit hijau tumbuh 19 persen (yoy).

Kredit hijau mencapai Rp123 triliun, termasuk pembiayaan berkelanjutan ke sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) yang tumbuh 82 persen (yoy) menjadi Rp7,7 triliun. Peningkatan juga terjadi pada kredit kendaraan bermotor listrik yang tumbuh 25 persen (yoy) mencapai Rp4 triliun.

Rasio loan at risk (LAR) dan non performing loan (NPL) terjaga masing-masing 4,9 persen dan 1,9 persen. Pendapatan non bunga perseroan mencapai Rp13,2 triliun, tumbuh 11 persen (yoy) per Juni 2026.


Source link

Berita Terkait

Berita Populer