Sunday, August 9, 2026
HomeEkonomiSinergi Fiskal-Moneter: Kunci Stabilitas Rupiah dan Ekonomi

Sinergi Fiskal-Moneter: Kunci Stabilitas Rupiah dan Ekonomi

- Advertisement -
- Advertisement -

Sinergi Fiskal-Moneter Untuk Tetap Stabil

Saat ini, ketidakpastian global menjadi tantangan utama yang dihadapi para pemangku kepentingan dalam menjaga perekonomian Indonesia. Stabilitas Rupiah terhadap dolar AS menjadi fokus utama, karena dapat berdampak positif pada sektor keuangan dan rill, serta pertumbuhan ekonomi.

Tantangan yang Diakui oleh OJK

Kepala Departemen Perizinan dan Manajemen Krisis Perbankan dari Otoritas Jasa Keuangan, Aslan Lubis, mengakui bahwa tahun ini bukanlah tahun yang mudah bagi industri keuangan. Tingginya ketidakpastian di pasar global, termasuk akibat ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat, serta kebijakan proteksionis negara-negara membuat situasi semakin sulit.

Sinergi Antar Lembaga

Dalam menghadapi tantangan besar ini, Aslan Lubis menekankan pentingnya sinergi antara berbagai pemangku kepentingan. Misalnya, tindakan Bank Indonesia yang telah menaikkan suku bunga dan langkah efisiensi anggaran oleh Kementerian Keuangan merupakan upaya untuk menjaga stabilitas Rupiah dan fiskal.

Menurut Aslan, stabilitas sektor keuangan telah terjaga dengan baik hingga saat ini, namun tantangan terus ada dan perlu penanganan secara bersama-sama.

Harmonisasi Fiskal-Moneter

Telisa Falianty, seorang ekonom dari Universitas Indonesia, juga menyuarakan pentingnya sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter bagi stabilitas ekonomi nasional. Harmonisasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia harus seimbang, tanpa dominasi salah satu pihak, karena hal ini dapat berisiko menyebabkan ketidakstabilan ekonomi.

Pergerakan kebijakan fiskal juga dihadapkan pada tantangan transmisi ke daerah, seperti pemangkasan Dana Transfer ke Daerah yang memerlukan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah agar pelayanan publik tetap berjalan lancar.

Tantangan di Sektor Riil

Meskipun pertumbuhan kredit terlihat membaik, penyaluran kredit masih terkonsentrasi pada sektor korporasi besar. Kredit untuk UMKM dan modal kerja belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini sejalan dengan penurunan daya beli masyarakat kelas menengah yang tampak dari penarikan tabungan dan peningkatan penggunaan pinjaman.

Source link

Berita Terkait

Berita Populer