Jakarta Masuk Tiga Besar Kualitas Udara Terburuk di Dunia
Situs pemantau kualitas udara IQAir melaporkan bahwa Jakarta pada Kamis pagi berada di peringkat ketiga terburuk di dunia. Dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai angka 161, Jakarta masuk dalam kategori tidak sehat. Hal ini mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker saat berada di luar ruangan.
Situs Pemantauan Kualitas Udara
Mengutip data yang sama, kota dengan kualitas udara terburuk di dunia adalah Kinshasa (Republik Demokratik Kongo) dengan AQI 181. Posisi kedua ditempati oleh Kampala (Uganda) dengan AQI 166, dan urutan keempat diduduki oleh Portland (Amerika Serikat) dengan AQI 161.
Strategi Pemerintah DKI Jakarta dalam Memperbaiki Kualitas Udara
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah merancang tiga strategi utama untuk meningkatkan kualitas udara di ibu kota. Pertama, mereka memperluas layanan bus Transjabodetabek untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan membuka rute baru seperti Blok M-Alam Sutera, Blok M-PIK 2, dan Blok M-Bandara Soekarno Hatta.
Kedua, Pemprov DKI Jakarta menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada tahun 2030 untuk mengurangi emisi gas buang dari sektor transportasi yang saat ini menyumbang 50 persen polusi udara di Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, juga mengajak masyarakat untuk menggunakan layanan transportasi publik yang telah disediakan dengan menerbitkan aturan pemberlakuan layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat.
Strategi ketiga yang diterapkan adalah mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah Refused Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara sebagai upaya dalam menjaga kualitas udara di Ibukota.


