Rupiah Menguat terhadap Dolar AS di Awal Perdagangan
Nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (21/8/2026). Data Refinitiv mencatat bahwa rupiah dibuka di level Rp17.720 per dolar AS atau mengalami kenaikan sebesar 0,11 persen.
Penyebab Penguatan Rupiah
Penguatan rupiah dipicu oleh menurunnya tekanan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan respons positif pasar terhadap komitmen pemerintah dalam mengelola fiskal melalui penataan subsidi energi di dalam negeri. Selain itu, penurunan biaya pinjaman jangka panjang AS di pasar global juga memberikan sentimen positif terhadap pergerakan rupiah.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, menilai bahwa dinamika geopolitik global dan kebijakan bank sentral AS yang masih ketat tetap menjadi perhatian pelaku pasar. Selain itu, Departemen Keuangan AS juga meningkatkan program pembelian kembali (buyback) sekuritas jangka panjang untuk mengendalikan biaya pinjaman, yang berdampak pada penurunan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun dan 30 tahun. Hal ini dilakukan guna mendukung likuiditas dan menstabilkan ekonomi.
Risalah rapat terbaru Federal Reserve (The Fed) edisi Juli menunjukkan bahwa sebagian pembuat kebijakan masih mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga jika inflasi tidak menurun. Meski pada pertemuan bulan lalu, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5%–3,75%, namun sejumlah anggota berpendapat bahwa langkah cepat diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target.


