Rupiah Menguat Tipis Terhadap Dolar AS Pada Pembukaan Perdagangan Senin
Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari Senin mengalami kenaikan tipis sebesar 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.690 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.694 per dolar AS. Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai bahwa penguatan rupiah dipengaruhi oleh situasi harga minyak global yang mulai menurun.
Minyak Brent Turun Lebih dari 13 Persen
Rully Nova menjelaskan bahwa harga minyak mentah Brent sudah turun lebih dari 13 persen, mencapai di bawah 90 dolar AS per barel. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi global yang melambat akibat kebijakan pengetatan yang diterapkan oleh bank sentral dunia.
Rully memperkirakan bahwa rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan akan menguat tipis dalam kisaran Rp17.650 – Rp17.700, dipengaruhi oleh penurunan harga minyak global serta penguatan mata uang di kawasan regional.
Neraca Pembayaran Indonesia Mencatat Defisit Lebih Rendah
Perhatian pelaku pasar juga tertuju pada kinerja neraca berjalan Indonesia. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) untuk triwulan II 2026 mencatat defisit sebesar 0,9 miliar dolar AS, lebih rendah dari defisit pada triwulan sebelumnya yang mencapai 9,1 miliar dolar AS. Meskipun defisitnya menyempit, namun kondisinya masih rapuh karena didukung oleh aliran hot money yang masuk ke pasar keuangan Indonesia.
Hot money yang masuk cukup deras, dipicu oleh kenaikan yield obligasi pemerintah AS terutama yang jangka panjang. Hal ini berarti semakin tingginya yield membuat minat pelaku pasar terhadap rupiah merosot.
Harga emas Antam sendiri pada hari Senin juga mengalami kenaikan sebesar Rp10.000 menjadi Rp2,750 juta per gram. Kondisi pasar ini menunjukkan dinamika yang terjadi dalam perdagangan valuta asing dan investasi di Indonesia.


