Tuesday, October 13, 2026
HomeLainnyaPerang Modern Mengubah Cara Negara Memahami Ancaman Pertahanan

Perang Modern Mengubah Cara Negara Memahami Ancaman Pertahanan

- Advertisement -
- Advertisement -

Dalam era globalisasi saat ini, arus keuangan, informasi, dan barang melewati batas negara dengan sangat mudah. Namun, Farrell dan Newman (2019) menekankan bahwa kemudahan itu menimbulkan risiko baru bagi negara-negara serta menciptakan celah untuk manipulasi maupun perlindungan atas risiko tersebut. Dua konflik besar, yaitu perang di Ukraina dan Iran, telah membuktikan betapa rentannya sistem global terhadap guncangan regional. Pada kasus Ukraina, dunia melihat bagaimana suplai pangan terganggu hingga harga pangan melonjak dan beberapa negara mengalami kelangkaan. Sedangkan konflik di Iran memengaruhi pasokan energi global, bukan hanya akibat produksi yang menurun, tetapi juga oleh terbatasnya distribusi akibat ancaman dan serangan terhadap kapal serta pemasangan ranjau di jalur pelayaran vital.

Dampak dari dua perang tersebut menunjukkan bagaimana sebuah konflik terbatas mampu menjalar ke seluruh dunia akibat keterhubungan global yang erat. Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak, pernah hanya dilewati 2,7 juta dari biasanya 20 juta barel per hari selama beberapa bulan sebagai akibat dari risiko tinggi. International Energy Agency menyebut situasi ini sebagai gangguan yang paling signifikan dalam sejarah pasar minyak dunia. Menariknya, Iran tidak perlu mencegat semua kapal, tetapi cukup membuat rute tersebut dianggap terlalu berbahaya bagi kebanyakan operator. Di Ukraina, gangguan pada pelabuhan Laut Hitam menurunkan volume ekspor pangan dan mengacaukan sistem distribusi. Alternatif jalur darat atau sungai tidak mampu menggantikan peran pelabuhan secara penuh sehingga mengakibatkan efek domino pada rantai pasokan dan bahkan produksi pangan di musim tanam berikutnya, terutama karena pasokan pupuk juga terganggu.

Kasus-kasus ini menegaskan bahwa meski jaringan ekonomi kini semakin luas, ada titik-titik vital atau simpul utama yang begitu krusial. Titik-titik inilah yang disebut sebagai chokepoint, dimana hilangnya fungsi satu simpul dapat memicu efek global yang luas—jauh melampaui wilayah perang. Tidak semua simpul tersebut bersifat fisik seperti pelabuhan atau selat; jaringan keuangan, pusat data, teknologi, dan semikonduktor juga menjadi titik rawan jika aksesnya dibatasi atau diputus, misalnya melalui sanksi ekonomi, blokade teknologi, atau pemutusan sistem pembayaran internasional. Fishman (2025) menyoroti bahwa simpul strategis seperti ini kerap dijadikan instrumen perang, baik dengan kekuatan militer maupun instrumen ekonomi.

Dinamika ini mengubah wajah peperangan modern. Clausewitz dulu menekankan bahwa perang adalah instrumen politik, kini bentuk serangannya turut merasuki aspek non-militer dan menyebarkan dampak ekonomi ke negara lain yang tidak terlibat langsung dalam konflik. Negara yang tidak berperang pun terkena imbas jika mereka bergantung pada jalur dagang atau pasokan energi dan pangan dari wilayah yang terganggu. Indonesia adalah salah satu contoh negara yang harus mewaspadai kemungkinan seperti ini, sebab konektivitas ekonomi dan sistem pertahanan Tanah Air sangat bergantung pada jalur laut, pelabuhan, terminal bahan bakar, gudang logistik, kabel bawah laut, bahkan jaringan pembayaran antar-pulau.

Menghadapi ancaman ini, perencanaan pertahanan nasional tidak cukup sekadar menghitung kekuatan militer lawan. Negara harus memetakan fungsi-fungsi strategis yang menjadi tulang punggung ekonomi maupun operasi militer, seperti distribusi energi, akses teknologi, sarana komunikasi, dan ketersediaan pangan atau bahan bakar. Kerugian Indonesia tidak hanya akan terjadi bila wilayahnya diserang, namun juga jika simpul-simpul penting itu terkena dampak dari perang lain di level internasional. Oleh karena itu, strategi pertahanan wajib berorientasi pada perlindungan simpul-simpul vital, menyiapkan jalur cadangan dan opsi substitusi, serta mempercepat pemulihan saat terjadi gangguan pada rantai pasok global.

Swasembada memang dapat mengurangi ketergantungan, tetapi bukan jaminan jika bahan baku dan distribusinya masih dikendalikan simpul global di luar negeri. Sebaliknya, ketergantungan dapat dikelola dengan baik selama ada stok, alternatif, dan jalur redundan. Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, kerentanan tidak hanya terletak pada jalur laut, namun juga pada jaringan distribusi antar-pulau, stasiun energi, pusat data, pelabuhan, dan infrastruktur teknologi lain yang vital.

Pelajaran terbesar dari Ukraina dan Iran bukan melulu soal perlunya melepaskan ketergantungan global, melainkan mengenai bagaimana perang bisa mengubah simpul keterhubungan menjadi sumber kerentanan baru. Pertanyaannya bukan lagi semata-mata kapan serangan datang, tetapi: fungsi apa yang bisa lumpuh, simpul mana yang sulit digantikan, serta berapa lama Indonesia bisa bertahan jika salah satu kunci ini gagal berfungsi.

Akhirnya, bayangkan di tengah tantangan global dan kerentanan seperti ini, akses terhadap pengetahuan juga menjadi vital. Jika ada generasi muda yang terhalang karena keterbatasan sumber daya, misalnya hanya memiliki satu buku lusuh—maka membantu mereka berarti memperkuat ketahanan bangsa di masa depan. Anda pun bisa ikut berperan membuka akses pendidikan dan memperluas cakrawala generasi berikutnya di pelosok negeri melalui kontribusi nyata, menghubungkan mereka dengan dunia yang semakin terhubung dan sekaligus rapuh ini.

Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas

Berita Terkait

Berita Populer