Tuesday, October 13, 2026
HomeFinansialBCA: Ekonomi Sulit Diprediksi Dorong Proteksi Kekayaan

BCA: Ekonomi Sulit Diprediksi Dorong Proteksi Kekayaan

- Advertisement -
- Advertisement -

Ketidakpastian ekonomi membuat nasabah semakin membutuhkan strategi perlindungan kekayaan untuk jangka panjang. Executive Vice President Wealth Management BCA Indrawan B mengatakan perubahan yang berlangsung cepat menyulitkan masyarakat maupun pelaku usaha memproyeksikan kondisi ekonomi dalam lima hingga 10 tahun mendatang.

“Kalau kita bicara ini kan ketidakpastian. Kita agak sulit untuk prediksi misalnya lima tahun ke depan mau bagaimana, 10 tahun ke depan mau bagaimana. Karena perubahannya sangat cepat,” kata Indrawan dalam konferensi pers Wealth Prestige Protection di Jakarta, Jumat.

Inflasi dan nilai tukar menjadi pertimbangan

Menurut Indrawan, keterhubungan ekonomi global dan domestik turut memperbesar dampak perubahan ekonomi. Peristiwa yang terjadi di suatu negara dapat memengaruhi negara lain, sehingga perencanaan kekayaan tidak cukup hanya mempertimbangkan kondisi saat ini.

Ia menilai inflasi dan perubahan nilai tukar merupakan sejumlah risiko yang perlu diperhitungkan ketika nasabah menyusun rencana perlindungan kekayaan. Nilai nominal yang sama belum tentu memiliki daya beli yang setara pada masa mendatang.

“Uang Rp1 miliar sekarang dengan uang Rp1 miliar 10 tahun lagi mungkin akan sangat berbeda,” ujar Indrawan.

Ia juga menyebut kecenderungan nilai rupiah terhadap dolar AS sebagai faktor lain yang perlu diperhatikan. Karena itu, perlindungan kekayaan dalam jangka panjang, menurut dia, perlu memperhitungkan potensi perubahan nilai mata uang sekaligus tekanan inflasi.

“Harus up supaya bisa meng-cover inflasi dan segala macam. Termasuk currency-nya,” katanya.

BCA tawarkan perlindungan hingga usia 99 tahun

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, BCA menghadirkan solusi perlindungan melalui Prestige Pro yang dikembangkan bersama AIA Indonesia. Produk itu dirancang untuk memberikan perlindungan jangka panjang hingga nasabah mencapai usia 99 tahun.

Indrawan mengatakan penggunaan denominasi dolar AS dalam produk tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengantisipasi ketidakpastian nilai rupiah dalam jangka panjang. Ia menambahkan, solusi perlindungan kekayaan tidak semata-mata diarahkan agar nilainya tetap stabil, tetapi juga diharapkan dapat tumbuh sehingga mampu mengimbangi dampak inflasi.

Meski demikian, ia menekankan bahwa penawaran produk wealth management harus berangkat dari kebutuhan nasabah, bukan dari target penjualan internal. BCA, kata dia, tidak menetapkan produk tertentu yang kemudian wajib dikejar oleh tenaga pemasar.

“Kita tidak mau penjualan kita itu di-drive dari keinginan kita menjual. Yang kita mau adalah kita menjual berdasarkan angka yang nasabah kita butuh,” ujar Indrawan.

Pendekatan tersebut, lanjutnya, ditujukan agar solusi yang diberikan lebih tepat sasaran dan sesuai dengan preferensi serta karakter nasabah yang menjadi target layanan.

Source link

Berita Terkait

Berita Populer