PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengembangkan model Biomassa dari Desa atau Biodes untuk memperkuat pasokan bahan bakar biomassa bagi pembangkit listrik. Program ini menempatkan desa bukan sekadar sebagai penyedia bahan baku, melainkan sebagai bagian dari proses produksi, pengolahan, hingga distribusi biomassa ke pembangkit.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan mengatakan, Biodes dirancang dengan menggabungkan potensi biomassa desa, pertanian terpadu, pemberdayaan masyarakat, serta rantai pasok yang terkelola. Menurut dia, pendekatan tersebut ditujukan untuk menghasilkan pasokan biomassa yang berkualitas dan berkelanjutan, sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.
“Inovasi Biodes merupakan wujud komitmen PLN EPI dalam membangun ekosistem biomassa yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Mamit dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Menjawab keterbatasan pasokan biomassa
Pengembangan Biodes didorong oleh keterbatasan biomassa berbasis limbah yang siap digunakan. Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2022 yang menjadi salah satu dasar pengembangan program, potensi biomassa limbah diperkirakan mencapai titik jenuh sekitar 2,4 juta ton. Sementara itu, masih terdapat kesenjangan pasokan sekitar 7,6 juta ton untuk memenuhi target cofiring dalam RUPTL 2025-2034.
Karena itu, Biodes tidak hanya mengandalkan limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Program tersebut juga mencakup budidaya tanaman energi di lahan kering atau marjinal. Tanaman energi dikembangkan dengan pola tumpang sari bersama tanaman pangan agar pasokan biomassa dapat berjalan beriringan dengan manfaat ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat desa.
Officer Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI Khalda Az Zahra mengatakan pendekatan itu membuat pengembangan biomassa lebih produktif dan terintegrasi. “Tidak hanya mengandalkan limbah yang sudah tersedia, Biodes juga mendorong penanaman tanaman energi secara tumpang sari dengan tanaman pangan,” ujarnya.
PLN EPI menerapkan enam pendekatan utama dalam Biodes, yakni optimalisasi potensi biomassa desa, penanaman tanaman energi secara tumpang sari, pengembangan rantai pasok dengan model spoke-hub, peningkatan kualitas dan kuantitas biomassa, digitalisasi berbasis marketplace, serta integrasi desa dengan industri.
Dimulai dari 106 hektare lahan di Cilacap
Implementasi awal Biodes berlangsung di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sejak 2023 dengan memanfaatkan 106 hektare lahan. Tahapannya meliputi survei dan sosialisasi, penerapan pertanian terpadu, panen dan pengumpulan hasil di subhub, produksi biomassa melalui BUMDes, kemudian pengiriman ke PLTU Adipala, Cilacap.
Dalam skema tersebut, biomassa dari berbagai sumber di tingkat desa dikumpulkan, diolah, dan dikonsolidasikan melalui subhub serta hub sebelum dikirim ke pembangkit. Digitalisasi digunakan untuk mengintegrasikan rantai pasok sekaligus mendukung efisiensi logistik dan menjaga kualitas, kuantitas, serta kontinuitas pasokan.
Program ini diproyeksikan menambah pasokan biomassa hingga 15.000 ton per tahun dengan melibatkan 330 petani. Selain memanfaatkan lahan marjinal seluas 106 hektare, Biodes diperkirakan menciptakan 25 lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan petani kecil hingga Rp100.000 per hari per pekerja. Dari sisi lingkungan, program tersebut diproyeksikan menurunkan emisi gas rumah kaca sekitar 6.750 ton CO2e.
Inovasi Biodes telah dipaparkan oleh tim PLN EPI yang terdiri atas Khalda Az Zahra, Pandu Trijaka, dan Nurlita Dewi Utami dalam sesi Knowledge Hub Enlit Asia MKI Electricity Connect 2026.
Ke depan, PLN EPI menyiapkan perluasan Biodes ke desa-desa di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Pengembangan juga akan dilakukan bersama mitra pemasok di luar Pulau Jawa serta melalui perluasan penerapan di berbagai lokasi PLTU cofiring. Secara bertahap, program ini ditargetkan mencakup hingga 100 desa untuk memperkuat pasokan biomassa dan membuka peluang bisnis beyond kWh.


