Indonesia Catat Deflasi Tahunan, Fenomena Langka Setelah 25 Tahun
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi pada Februari 2025, tepat menjelang Ramadan saat konsumsi masyarakat biasanya naik. Kondisi ini langsung menarik perhatian karena bukan hanya terjadi secara bulanan, tetapi juga memunculkan deflasi tahunan sebesar 0,09 persen, sesuatu yang disebut Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti sebagai fenomena langka.
Dalam pemaparannya, Amalia menjelaskan deflasi bulanan pada Februari 2025 tercatat 0,48 persen. Menurut dia, penurunan harga itu tidak bisa dibaca sederhana sebagai tanda turunnya daya beli masyarakat, sebab ada kebijakan pemerintah yang sangat memengaruhi angka inflasi, yakni diskon tarif listrik sebesar 50 persen.
Diskon Listrik Jadi Pendorong Utama
Amalia menegaskan, deflasi kali ini terutama dipicu intervensi kebijakan, bukan oleh pelemahan konsumsi rumah tangga. Sejumlah komoditas ikut memberi andil pada penurunan indeks harga, mulai dari kelompok perumahan, air, bahan bakar rumah tangga, hingga bahan pangan seperti beras, tomat, dan cabai.
Meski begitu, BPS juga mencatat komponen inti masih bergerak naik. Inflasi inti pada Februari berada di level 0,25 persen, dengan penyumbang dominan antara lain emas perhiasan, kopi bubuk, dan mobil. Data ini menunjukkan bahwa tekanan harga di level dasar belum benar-benar hilang.
Ekonom: Belum Tentu Tanda Daya Beli Melemah
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy, menilai diskon tarif listrik memang menjadi faktor paling besar dalam deflasi bulanan maupun tahunan. Namun, ia belum sepenuhnya sepakat jika deflasi ini langsung diartikan sebagai turunnya daya beli masyarakat. Menurut dia, inflasi inti yang masih terjaga menjadi salah satu alasan mengapa kesimpulan tersebut harus ditarik dengan hati-hati.
Yusuf menambahkan, perubahan daya beli seharusnya dibaca bersama indikator ekonomi lain agar gambaran yang muncul lebih utuh. Dengan kata lain, angka deflasi saja belum cukup untuk menyimpulkan kondisi konsumsi masyarakat secara keseluruhan.
Menjelang Ramadan, Deflasi Jadi Sinyal yang Perlu Dipantau
Peneliti Next Policy, Shofie Azzahrah, melihat deflasi Februari tidak semata-mata berdiri di atas diskon listrik, melainkan juga mencerminkan tren ekonomi yang berlangsung lebih panjang. Ia menyoroti satu hal yang tidak lazim: deflasi justru muncul menjelang Ramadan, periode yang biasanya diikuti peningkatan permintaan dan belanja masyarakat.
Dalam konteks itu, deflasi Indonesia perlu dicermati lebih jauh agar tidak hanya dibaca sebagai efek kebijakan harga sesaat. Sementara BPS menegaskan angka ini lebih banyak dipengaruhi intervensi pemerintah, perdebatan soal seberapa kuat daya beli masyarakat tampaknya masih akan terus bergantung pada data-data ekonomi berikutnya.
Source link


