Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia menjadi sorotan bagi Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho. Wisnu menyampaikan bahwa program ini perlu diprioritaskan untuk siswa dari keluarga kurang mampu agar lebih efektif dan tidak membebani keuangan negara. Ia menyoroti masalah sulitnya pemantauan terhadap kualitas makanan yang disediakan dan mengusulkan alternatif pendanaan seperti subsidi bahan pangan bagi keluarga miskin atau voucher makanan.
Menurut Wisnu, pentingnya memfokuskan program ini pada anak-anak kurang mampu bukan hanya masalah anggaran, melainkan juga distribusi bahan makanan. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, program makan gratis di sekolah dinilai berhasil dengan mengikutsertakan petani, peternak, pendidik, dan komunitas lokal. Pengetahuan dari program serupa di negara lain bisa menjadi acuan untuk pemerintah Indonesia dalam meningkatkan efektivitas MBG.
Bukan hanya itu, dalam implementasinya, Wisnu menyarankan agar pemerintah daerah memegang peran yang lebih besar dalam pelaksanaan program ini. Dia juga menekankan pentingnya pengawasan dan audit independen untuk memastikan program berjalan dengan baik. Agar program ini berkelanjutan tanpa mengorbankan sektor lain, Wisnu menyarankan pemerintah agar lebih selektif dalam alokasi anggaran tanpa merugikan sektor esensial seperti pendidikan dan kesehatan.
Meskipun menuai pro kontra, Wisnu masih melihat potensi positif dari program MBG dalam jangka panjang, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan produktivitas tenaga kerja. Dengan demikian, program ini diharapkan tidak hanya menjadi kebijakan populis dalam jangka pendek, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


