Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, mengungkap motif dari serangkaian teror dan penyerangan busur yang terjadi selama sepuluh hari pertama Ramadan. Dalam ekspose kasus di Mapolrestabes Makassar, Arya menyoroti bahwa dari 27 tersangka yang ditahan, motif penyerangan mereka sama. Mereka menyerang korban tanpa alasan yang jelas, terutama jika korban adalah anggota polisi atau hanya karena hal kecil seperti papasan di jalan. Arya menjelaskan bahwa kejadian-kejadian ini terjadi di berbagai kecamatan di Makassar, termasuk Mamajang, Bontoala, Manggala, Biringkanaya, dan Rappocini.
Menurut Arya, terdapat banyak masyarakat yang menjadi korban akibat tindakan para pelaku. Mereka seringkali merasa teraniaya akibat kekerasan yang dilancarkan oleh para tersangka. Meskipun pelaku umumnya merupakan kelompok-kelompok kecil yang tidak memiliki keterkaitan yang jelas, ada satu kejadian di Kecamatan Biringkanaya yang diduga memiliki motif berbeda, yaitu karena masalah percintaan terhadap satu wanita yang sama.
Arya menegaskan bahwa kejadian pembusuran ini seringkali terjadi pada malam hari, setelah shalat tarawih, ketika banyak anak muda berkumpul di jalan. Meskipun mereka sudah diingatkan untuk tidak melakukan tindakan kekerasan, tetap saja masih banyak yang terlibat dalam aksi tersebut. Kejadian-kejadian ini menunjukkan bahwa masih diperlukan upaya lebih lanjut untuk mencegah tindakan kekerasan selama bulan suci Ramadan di Makassar.


