Saturday, January 17, 2026
HomeHiburanKasus DUI di Korea Selatan: Hukuman dan Dampaknya

Kasus DUI di Korea Selatan: Hukuman dan Dampaknya

- Advertisement -
- Advertisement -

Kasus mengemudi dalam keadaan mabuk (Driving Under Influence atau DUI) menjadi salah satu pelanggaran berat di Korea Selatan, terutama ketika melibatkan selebriti seperti aktris Kim Sae Ron. Masalah DUI tidak hanya membahayakan pengemudi, tetapi juga orang lain di jalan raya atau penduduk sekitar. Di Korea Selatan, DUI bukan hanya pelanggaran hukum, namun juga dapat mengakhiri karier seorang selebriti. DUI adalah kondisi mengemudi kendaraan di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan yang mempengaruhi kesadaran atau kemampuan pengemudi. Batas legal kadar alkohol dalam darah (Blood Alcohol Concentration atau BAC) di Korea Selatan adalah 0,03% – 0,08%, termasuk aturan BAC paling rendah di antara negara lain. Pelanggaran DUI dapat berujung pada hukuman berat, seperti denda hingga 20 juta won atau penjara maksimal 5 tahun. Jika BAC melebihi batas atau menimbulkan kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal, berlaku hukuman penjara seumur hidup. Pemerintah Korea Selatan telah menerapkan undang-undang transportasi jalan raya atau dikenal sebagai Undang-Undang Yoon Chang-ho pada 2018 untuk mengatasi tingginya angka pelanggaran DUI. Beberapa contoh aktris Korea yang terlibat dalam kasus DUI dan menerima hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku, seperti Kim Sae Ron, Suga BTS, dan Son Seung Won. Meskipun Korea memiliki budaya konsumsi alkohol yang tinggi, angka pelanggaran DUI mulai menurun, namun dampaknya masih terasa. Untuk menekan angka pelanggaran DUI, pemerintah Korea mewajibkan pengemudi yang melanggar hingga dua kali dalam jangka lima tahun untuk memasang alat pendeteksi alkohol pada kendaraan mereka. Alat ini akan menganalisis napas pengemudi dan kendaraan akan menyala jika kadar alkohol pengemudi melebihi batas yang diperbolehkan. Karena masyarakat Korea tidak mentolerir kasus DUI, pelaku selain terkena konsekuensi hukum juga akan menghadapi kecaman publik dan risiko kehilangan pekerjaan.

Source link

Berita Terkait

Berita Populer