Analisis nilai tukar mata uang rupiah dipengaruhi pernyataan dovish dari Federal Reserve (The Fed), yang membuat rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS. Hal ini disebabkan oleh penurunan asumsi pertumbuhan ekonomi AS oleh Kepala The Fed, Jerome Powell, dari 2,1 persen menjadi 1,7 persen. Powell juga mengisyaratkan adanya dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, yang diperkirakan akan turun dari 4,25-4,50 basis points (bps) menjadi 3,75-4,00 bps. Meskipun proyeksi ekonomi terbaru The Fed menjadi sorotan, sentimen pasar menunjukkan kekhawatiran terhadap tarif impor AS yang bisa mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Pasar juga memperhatikan kemungkinan pemangkasan suku bunga di semester kedua tahun ini. Namun, potensi penguatan rupiah mungkin terbatas karena sentimen domestik yang masih belum pulih. Pada Selasa, BEI juga melakukan pembekuan sementara perdagangan sistem perdagangan karena penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari 5 persen, dipicu oleh kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, penurunan peringkat saham, dan isu pengunduran Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dengan segala faktor tersebut, nilai tukar rupiah pada hari ini diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.400-Rp16.550 per dolar AS. Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, rupiah melemah menjadi Rp16.493 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.531 per dolar AS.


