Fadhil Hasan, seorang ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), memberikan pandangan terhadap kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) yang berpotensi mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Menurutnya, kebijakan ini dapat membuat harga produk impor yang dijual di Amerika menjadi lebih mahal, sehingga memicu inflasi dan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.
Kenaikan suku bunga The Fed dapat menyebabkan capital outflow dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, karena obligasi AS akan menjadi lebih menarik bagi investor. Dampak dari depresiasi nilai tukar rupiah ini juga akan berdampak pada hutang dan fiskal Indonesia. Selain itu, beberapa produk ekspor Indonesia yang terkena dampak tarif resiprokal AS adalah tekstil, garmen, alas kaki, dan minyak kelapa sawit.
Meskipun Indonesia termasuk dalam daftar negara yang terkena kenaikan tarif AS, dampaknya cenderung moderat jika dibandingkan dengan negara-negara pesaing seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand. Indonesia memiliki total share ekspor ke Amerika sebesar 10,5 persen dan surplus perdagangan dengan Amerika sebesar 16,8 miliar dolar AS.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif sebesar 10 persen ke berbagai negara, termasuk Indonesia, atas barang-barang yang masuk ke Amerika. Indonesia berada di urutan kedelapan dalam daftar negara yang terkena kenaikan tarif AS dengan besaran 32 persen. Kenaikan tarif ini juga menimpa negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand.
Tujuan dari tarif timbal balik ini adalah untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja di dalam negeri AS. Trump dan pejabat pemerintahannya berpendapat bahwa AS telah dirugikan oleh praktik perdagangan yang dianggap tidak adil. Kenaikan tarif ini diumumkan dalam acara “Make America Wealthy Again” di Gedung Putih.
Artikel ini bersumber dari ANTARA News pada tahun 2025.








