Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menegaskan bahwa sistem teknologi informasi (IT) untuk Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah akan memiliki standar keamanan yang setara dengan sistem LPS. Pengembangan IT BPR/BPRS akan diawasi secara menyeluruh oleh LPS tanpa melibatkan pihak ketiga, untuk memastikan keamanan data yang optimal. Sistem ini akan dikembangkan melalui skema pilot project yang dimulai dengan dua BPR terlebih dahulu, sebelum diperluas ke 100 BPR pada pertengahan 2026.
Direktur Group Sistem Informasi LPS, Monang Siringoringo, menegaskan bahwa keamanan data nasabah adalah prioritas utama. LPS telah menerapkan teknologi enkripsi tingkat tinggi seperti Quantum Leap Algorithm untuk memastikan keamanan sistem. Integrasi teknologi yang ada akan dilakukan dalam pengembangan IT BPR/BPRS, di mana setiap tahap proyek akan melibatkan pengujian fungsi dan keamanan untuk meminimalkan risiko serangan siber.
Pihak LPS telah menghadapi serangan siber yang beragam, termasuk serangan DDoS yang masif dalam dua minggu terakhir. Meskipun demikian, sistem keamanan LPS telah mampu mengatasi serangan tersebut dengan baik. Monang menjelaskan bahwa serangan tersebut berasal dari berbagai negara, seperti Indonesia, Vietnam, Jerman, Amerika Serikat, dan Belanda.
Pada tahun 2022, LPS juga menjadi target ransomware, namun berhasil menggagalkan serangan tersebut. Tim siber LPS berhasil melacak dan membobol cloud penyimpanan pelaku untuk menghapus data yang telah disimpan. Hal ini menunjukkan perlunya kolaborasi serta keseriusan dalam menghadapi ancaman siber. Menjaga keamanan data dan sistem IT yang kuat adalah kunci dalam menjaga integritas operasional bank dan lembaga keuangan.


