Di tengah sisa-sisa bencana yang belum sepenuhnya pulih, para penyintas hidrometeorologi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, memilih tidak berhenti bergerak. Hidup di hunian sementara atau huntara di Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, mereka berupaya menjaga dapur tetap mengepul sekaligus mempertahankan penghasilan seadanya. Dari ruang yang terbatas, aktivitas ekonomi justru kembali tumbuh pelan-pelan.
Katering sederhana jadi penopang harian
Sejumlah warga memanfaatkan kesempatan yang ada dengan menerima pesanan makanan. Fina, salah satu penyintas, menjadi contoh paling terlihat. Ia mengerjakan pesanan katering sederhana untuk acara buka bersama di huntara, selain pesanan pribadi dari warga sekitar. Harga yang ia pasang berkisar Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per paket. Salah satu pesanan yang ia terima mencapai 200 paket pecel ayam, meski pengerjaannya tidak mudah karena keterbatasan tempat, tenaga, dan perlengkapan.
Mesin jahit kembali berputar
Selain usaha kuliner, kegiatan menjahit juga mulai hidup lagi di dalam huntara. Jurspartima, penyintas lainnya, kembali mengoperasikan mesin jahit setelah alatnya diperbaiki usai sempat rusak terkena lumpur saat bencana. Saat ini, ia tengah menyelesaikan pesanan 10 kodi baju pramuka dengan ongkos jahit Rp90 per kodi. Bagi para penyintas, pekerjaan seperti ini bukan sekadar mencari uang, tetapi juga cara menjaga rutinitas dan rasa percaya diri setelah kehilangan banyak hal.
Huntara yang tetap ramai
Suasana di huntara Kayu Pasak terbilang hidup, baik pada siang maupun malam hari. Tercatat 117 kepala keluarga masih tinggal di sana. Sebagian warga memang sesekali pulang pergi ke rumah mereka yang masih bisa ditempati sebagian, namun pusat aktivitas tetap berada di hunian sementara. Di tengah serba terbatas, mereka memilih terus bekerja dan saling menopang agar kehidupan sosial dan ekonomi tidak benar-benar terhenti. Source link


