Purbaya Menolak Tawaran Pinjaman IMF & Bank Dunia, Inilah Alasannya
Jakarta (ANTARA) – Plt Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Herman Saheruddin mengungkapkan alasan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menolak tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) senilai 20 miliar hingga 30 miliar dolar AS. Tawaran tersebut disampaikan dalam IMF-World Bank Spring Meeting di Washington DC pada April 2026.
Menilai Kondisi Ekonomi dan Risiko
Herman Saheruddin menjelaskan bahwa alasan penolakan tersebut terkait dengan pandangan IMF yang cenderung konservatif. IMF sebagai lembaga mitigasi risiko menawarkan fasilitas pembiayaan untuk kondisi darurat. Namun, kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih kuat dan stabil, sehingga fasilitas pinjaman tersebut tidak diperlukan pada saat itu.
Karakter dan Tujuan IMF
Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimis terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini terjaga. Dengan komitmen menjaga defisit APBN di bawah 3 persen terhadap PDB, Indonesia dianggap tidak memerlukan pinjaman darurat dari IMF. IMF lebih fokus pada mitigasi risiko dan kondisi darurat ekonomi, berbeda dengan lembaga multilateral lain seperti AIIB dan Bank Dunia.
Menurut Herman, karakter pembiayaan IMF yang berorientasi pada risiko menunjukkan perbedaan signifikan dengan pembiayaan dari AIIB dan World Bank. IMF lebih menekankan pada pembiayaan untuk menghadapi kondisi darurat dan tekanan ekonomi, sementara World Bank memiliki pendekatan yang lebih luas.
Fiskal Tetap Kuat, Tidak Memerlukan Pinjaman Darurat
Purbaya Yudhi Sadewa menyebut bahwa kondisi fiskal Indonesia masih kuat, dengan cadangan devisa mencapai 25 miliar dolar AS. Meskipun IMF dan Bank Dunia menawarkan pinjaman 20-30 miliar dolar AS untuk negara-negara yang membutuhkan, Indonesia tidak membutuhkan dana darurat tersebut saat itu.
Purbaya mengapresiasi tawaran pembiayaan dari kedua lembaga internasional tersebut, namun menyatakan bahwa kondisi keuangan Indonesia masih stabil dan tidak memerlukan bantuan pinjaman darurat saat itu. Dengan cadangan devisa yang mencukupi, Indonesia dapat tetap mengelola ekonomi dalam kondisi yang stabil.


