Pengembangan Singkong di Indonesia Membuka Peluang Luas
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy menyatakan bahwa pengembangan singkong di Indonesia memiliki prospek yang sangat besar. Ubi kayu merupakan salah satu komoditas pangan strategis Indonesia yang memiliki potensi yang besar.
Potensi Singkong Indonesia
Dalam acara peresmian National Cassava Center di Universitas Lampung, Rachmat Pambudy menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam pengembangan komoditas singkong. Dengan target produktivitas singkong mencapai 60 ton per hektare, harapannya singkong dapat menjadi bahan baku yang strategis untuk memperkuat daya saing nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Menurut Rachmat Pambudy, kenaikan harga singkong dari sekitar Rp600–700 per kilogram menjadi sekitar Rp2.200 per kilogram saat ini memberikan peluang yang semakin besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Kepala Bappenas juga menekankan pentingnya memakmurkan petani singkong di Indonesia.
Kontribusi Lampung
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal juga menyoroti besarnya kontribusi Provinsi Lampung terhadap produksi singkong nasional. Lebih dari 70 persen produksi singkong nasional berasal dari Lampung, dengan delapan dari 15 kabupaten di provinsi tersebut menjadi sentra produksi singkong yang didukung oleh perkembangan industri tapioka.
Dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia dalam pengembangan singkong, langkah-langkah strategis dan kolaborasi antara pemerintah, universitas, industri, dan petani menjadi kunci dalam memaksimalkan manfaat dari komoditas yang sangat bernilai ini.


